Home » , » Biografi Andi Djemma - Pahlawan Nasional dari Sulawesi Selatan

Biografi Andi Djemma - Pahlawan Nasional dari Sulawesi Selatan

Andi Djemma
Andi Djemma dan Soekarno
Andi Djemma adalah Raja (Datu) Luwu seorang tokoh Indonesia dan dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia tanggal 8 November 2002.  Beliau lahir di Palopo, Sulawesi Selatan pada 15 Januari 1901 dan meninggal di Makassar, Sulawesi Selatan pada 23 Februari 1965 pada umur 64 tahun.

Dianggkat menjadi Datu

Sebelum menjadi datu, pada tahun 1919 dia memegang jabatan setingkat wedana di Kolaka. Amanah itu diembannya hingga tahun 1923. Setelah itu dia kembali ke kota kelahirannya, Palopo dan mempersiapkan untuk menjadi datu. Sejak saat itu dia mulai mengenal paham nasionalisme. Dia dipercaya memimpin sebuah organisasi yang merupakan cabang dari sebuah politik di Jawa. Karena kepemimpinannya itulah, segala kegiatannya diawasi oleh Belanda.

Pada tahun 1935, ketika Andi Kombo ibu dari Andi Djemma meninggal dunia, golongan yang pro Belanda berusaha menghalangi pengangkatan Andi Djemma sebagai datu kerajaan Luwu. Namun banyak rakyat Luwu yang mendukungnya, usaha itupun berhasil digagalkan. Karena, mereka mengancam akan mengadakan kerusuhan jika Andi Djemma tidak diangkat menjadi datu.

Selama menjadi datu, organisasi kebangsaan dan agama seperti Partai Serikat Islam Indonesia (PSII) dan Muhammadiyah diberinya lebih banyak ruang untuk menjalankan kegiatannya di Kerajaan Luwu. Meskipun kebijakannya itu kurang disukai oleh para pemangku adat kerajaan.

Melawan penjajah

Kedatuan Luwu adalah kerajaan pertama di Sulawesi Selatan yang menyatakan bergabung ke dalam pangkuan republik dan dengan mengusulkan kepada presiden RI satu permintaan yaitu Daerah Istimewa Luwu. Menjelang kemerdekaan Indonesia pada 15 Agustus 1945, Andi Djemma bahkan memimpin ‘Gerakan Soekarno Muda’ dan memimpin Perlawanan Semesta Rakyat Luwu pada 23 Januari 1946. Tanggal itu sekarang diperingati sebagai Hari Perlawanan Rakyat Semesta. Beliau memimpin rakyat luwu (palopo) untuk berperang angkat senjata melawan tentara sekutu yang di boncengi oleh tentara NICA ( Nedelans Indiscehe Company Administration )

Pada 5 Oktober 1945, Andi Djemma sempat mengultimatum pihak Sekutu agar segera melucuti tentaranya dan kembali ke tangsinya di Palopo. Ultimatum itu dibalas Gubernur Jenderal Belanda, Van Mook, dengan mengirim puluhan bom kedalam kota Palopo.

Datu Luwu Andi Djemma bersama rakyatnya tidak gentar dengan serangan dari laut itu, Persembahan jiwa dan raga dari Bumi Sawerigading (julukan tanah Luwu) yang tidak rela di jajah oleh pihak sekutu terus berkobar sehingga Perang pun pecah di hampir semua wilayah Luwu raya. Kota Palopo di kuasi pemuda. Untuk beberapa jam sekutu mundur ke selatan. Sebelum bantuan yang besar datang dan menguasi kembali pusat kota Palopo.

Perlawanan semesta rakyat Luwu punya nilai historis sendiri, karena perlawanan itu termasuk paling luas. Perang meletus sepanjang tidak kurang 200 km. Perang dengan lokasi yang panjang itu menyulitkan sekutu.

Efek dari perang tersebut, Belanda sangat murka dan mengirim Raymond Wasterling. Merasa dipermalukan, Wasterling mengamuk dengan membantai kurang lebih 40.000 jiwa rakyat tak berdosa sepanjang Sulawesi Selatan. Walau angka korban 40.000 jiwa itu masih diperdebatkan mengingat angka 40.000 jiwa terlalu besar.

Karena tekanan yang disebabkan oleh kekuatan yang tidak seimbang, hingga beliau terpaksa meninggalkan istana bersama permaisurinya, memimpin rakyatnya bergerilya di dalam wilayah kerajaannya, yang mengakibatkan tertangkapnya Andi Djemma oleh tentara NICA. Andi Djemma yang mempunyai lima putera itu baru tertangkap pada 3 Juli 1946 dan diasingkan ke Ternate.

Setelah kemerdekaan RI diproklamirkan, dia mengeluarkan pernyataan bahwa kerajaan Luwu merupakan bagian dari negara RI. Untuk menyatukan sikap dan menentang kembalinya kekuasaan Belanda. Pada Septeber 1945, dia memprakarsai pertemuan raja-raja Sulawesi Selatan di Watampone. Tidak hanya itu, dia juga merestui pembentukan badan-badan perjuangan Palopo khususnya dan daerah Luwu pada umumnya. Badan-badan tersebut antara lain Pemuda Nasional Indonesia (PNI) dan Pemuda Republik Indonesia.

Atas jasa-jasanya, Andi djemma di anugrahi bintang kehormatan lencana “ Bintang Gerilya “ pada tanggal 10 november 1958 dengan nomor 36.822 yang di tanda tangani langsung oleh Presiden Republik Indonesia Soekarno. Sebagai daerah paling sebentar dijajah Belanda sekitar 30 tahun, Inilah persembahan wija to Luwu (rakyat Luwu) untuk republik ini.

Andi Djemma meninggal di Makassar pada 23 Februari 1965. Beliau diangkat menjadi Pahlawan Nasional pada 6 November 2002 dengan dikeluarkannya Keppres No. 73/TK/2002.

Sampai Andi djemma wafat, permintaan beliau kepada Soekarno untuk membentuk Daerah Istimewa Luwu yang telah di setujui tidak pernah terwujud nyata sebagaimana yang di harapkan Andi djemma dan masyarakat luwu. Salah satu penyebabnya adalah karena pada saat itu di wilayah luwu sedang bergejolak pemberontakan DI/TII yang di pimpin oleh Abdul Kahhar Mudzakkar.