Home » , » Biografi Marthen Indey - Pahlawan Nasional Dari Papua

Biografi Marthen Indey - Pahlawan Nasional Dari Papua

Marthen Indey
Marthen Indey

Agama : Kristen
Tempat Lahir : Doromena, Jayapura, Papua
Tanggal Lahir : Kamis, 14 Maret 1912
Warga Negara : Indonesia

Pendidikan
Latihan Militer Pard di Bris-bane Cans Australia
Sekolah Marinir di Makasar dan Surabaya
Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat
Sekolah Pelayaran
Sekolah Dasar{Sekolah Rakyat 5 tahun,Tamat}

Karir
Kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura 
dan berpangkat Mayor Tituler, 1963-1983
Anggota MPRS 
(Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) 
mewakili Irian Jaya, 1963-1968
Ketua PIM (Partai Indonesia Merdeka)
Kepala Distrik Arso Yamai dan Waris
Anggota Polisi Hindia Belanda

Isteri : Agustina Heumassey
Anak : 2 orang
Marthen Indey merupakan Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Papua. Ia lahir di Doromena, Jayapura, Papua, 16 Maret 1912 dan meninggal di Doromena, Jayapura, Papua, 17 Juli 1986 pada umur 74 tahun.

Sebelumnya, pria yang akrab disapa Marthen ini merupakan polisi Belanda yang kemudian berbalik mendukung Indonesia setelah bertemu dengan beberapa tahanan politik yang diasingkan di Digul, salah satunya adalah Sugoro Atmoprasojo. Saat itu, ia bertugas untuk menjaga para tahanan politik yang secara tidak langsung berhasil menumbuhkan jiwa nasionalismenya dalam pertempuran melawan penjajah.

Jiwa nasionalisme Marthen memang tumbuh sangat kuat, namun beberapa upaya yang direncanakan olehnya dan puluhan anak buahnya dalam menangkap aparat pemerintah Belanda berulang kali gagal. Perjuangan Marthen dalam membela tanah kelahirannya sempat gagal beberapa kali, namun hal itu tidak menyurutkan niat dan semangat juang pria lulusan Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat ini menyerah dan tunduk pada musuh begitu saja.

Sekembalinya dari pengungsian di Australia selama tiga tahun tepatnya pada tahun 1944, Marthen ditunjuk sekutu untuk melatih anggota Batalyon Papua yang nantinya akan difungsikan sebagai tentara pelawan Jepang. Setahun berikutnya, ia diangkat sebagai Kepala Distrik Arso Yamai dan Waris selama dua tahun. Dalam tahun-tahun tersebut Marthen tak hanya tinggal diam, namun ia melakukan kontak terhadap mantan para pejuang Indonesia yang pernah ditahan di Digul. Dalam kontak tersebut, mereka merencanakan suatu pemberontakan untuk mengusir Belanda dari tanah Cendrawasih. Namun, usaha mereka gagal begitu Belanda mencium gelagat Marthen dan rencana mereka batal diekskusi.

Pada tahun 1946 Marthen merangkap menjadi Kepala Distrik Arso Yamai dan Waris, Marthen bergabung dengan sebuah organisasi politik bernama Komite Indonesia Merdeka (KIM) yang kemudian dikenal dengan sebutan Partai Indonesia Merdeka (PIM). Saat menjabat sebagai ketua, Marthen dan beberapa kepala suku yang ada di Papua menyampaikan protesnya terhadap pemerintahan Belanda yang berencana memisahkan wilayah Irian Barat dari wilayah kesatuan Indonesia. Mengetahui pihaknya membelot, Belanda menangkap Marthen dan membuinya selama tiga tahun di hulu Digul karena pasukan Belanda merasa dikhianati oleh aksinya tersebut.

Pada tahun 1962 Marthen bergerilya untuk menyelamatkan anggota RPKAD yang didaratkan di Papua selama masa Tri Komando Rakyat (Trikora). Di tahun yang sama, Marthen menyampaikan Piagam Kota Baru yang berisi mengenai keinginan kuat penduduk Papua untuk tetap setia pada wilayah kesatuan Indonesia. Berkat piagam tersebut, Marthen dikirim ke New York untuk melakukan perundingan dengan utusan Belanda tentang pengembalian Irian Barat yang selama ini berada di bawah pemerintahan sementara PBB ke dalam wilayah kesatuan Indonesia.

Perundingan tersebut menghasilkan suatu keputusan yakni Irian Barat resmi bergabung dengan wilayah kesatuan Indonesia dan berganti nama menjadi Irian Jaya. Berkat jasanya, Marthen diangkat sebagai anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara) sejak tahun 1963 hingga 1968. Tak hanya itu, ia juga diangkat sebagai kontrolir diperbantukan pada Residen Jayapura dan berpangkat Mayor Tituler selama dua puluh tahun.

Marthen Indey meninggal pada tanggal 17 Juli 1986 dalam usia usia 74 tahun. Berkat jasanya terhadap negara, Marthen bersama dengan dua putra Papua lainnya yaitu Frans Kaisiepo dan Silas Papare mendapatkan gelar Pahlawan Nasional pada tanggal 14 September 1993 yakni dengan dikeluarkannya Surat keputusan Presiden No.077 /TK/ 1993.