Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq

Masjid Wazir Khan Pakistan
Masjid Wazir Khan Pakistan [Foto: Guilhem Vellut
Al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar ash-Shiddiq adalah seorang tabi’in, satu dari tujuh fuqaha Madinah selain Said ibn al-Musayyab, Urwah ibn az-Zubair, Abu Bakar ibn Abdurrahman al-Makhzuumi, Khaarijah ibn Zaid, Sulaiman ibn Yasaar, dan Ubaidullah ibn Abdillah ibn Utbah. Beliau yang paling utama ilmunya pada zamannya, paling tajam kecerdasan otaknya, dan paling bagus sifat wara’nya.

Ayahnya adalah Muhammad bin Abu Bakar ash-Shidiq, Ibnunya adalah putri Yazdajir, raja Persia yang terakhir. Sedangkan bibinya dari pihak ayah adalah Aisyah, Ummul Mukminin.


Menjadi yatim piatu

Al-Qasim bin Muhammad lahir pada akhir masa khilafah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu. Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya anak ini, badai fitnah semakin dahsyat menerpa kaum muslimin. Hingga mengakibatkan terbunuhnya khalifah yang zuhud, ahli ibadah, Dzun Nurain Utsman bin Affan sebagai syuhada, sedangkan Alquran berada dalam dekapannya.

Tak lama setelah itu muncul sengketa besar antara Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan bin Harb, gubernur untuk wilayah Syam. Dalam rangkaian keadaan genting dan peristiwa-peristiwa yang mencekam itu, anak tersebut mendapati dirinya bersama adik perempuannya dibawa dari Madinah ke Mesir, menyusul kedua orang tuanya. Ayahnya diangkat menjadi gubernur Mesir oleh khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Di kota ini dia harus menyaksikan cakar-cakar fitnah mencengkeram makin jauh sampai akhirnya ayah beliau tewas dengan cara yang keji. Selanjutnya beliau pindah lagi dari Mesir kembali ke Madinah setelah kekuasaan dipegang oleh Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu. Kini dia yatim piatu.


Diasuh oleh sang bibi

Setelah ayah Al-Qasim terbunuh di Mesir, pamannya, Abdurrahman datang untuk membawa Al-Qasim beserta adik perempuannya ke Madinah. Setibanya di kota ini, bibinya, Ummul Mukminin, mengutus seseorang mengambil mereka berdua untuk dibawa ke rumahnya dan dipelihara di bawah pengawasannya.

Selama dalam asuhan Aisyah, mereka berdua mendapatkan kasih sayang yang begitu dalam, mereka diurus layaknya anak sendiri, dari mulai dimandikan, disisiri rambutnya, hingga diberi pakaian-pakaian yang putih bersih.

Beliau senantiasa mendorong mereka, untuk berbuat baik dan melatihnya untuk itu dengan teladannya. Beliau melarang mereka melakukan perbuatan jahat dan menyuruh mereka meninggalkannya jauh-jauh. Beliau pula yang mengajar mereka membaca Kitabullah dan meriwayatkan hadis-hadis yang bisa mereka pahami. Di hari raya, bertambahlah kasih sayang dan hadiah-hadiahnya untuk mereka. Di setiap senja di hari Arafah, beliau memotong rambut Al-qasim, memandikannya dan adik perempuannya. Pagi harinya mereka diberi baju baru kemudian Al-qasim disuruh ke masjid untuk shalat Id. Setelah selesai, Al-qasim dikumpulkan bersama adiknya kemudian mereka makan daging udhhiyah.

Saat Al-qasim dan adik perempuannya sudah beranjak remaja dan telah mampu mengurus dirinya sendiri, maka oleh Aisyah diserahkan kepada pamannya Adurrahman. meski demikian hati anak keturunan Abu Bakar ini masih terpaut dengan rumah bibinya, Aisyah. Oleh sebab itu, dia membagi waktunya antara rumah bibi dan rumah pamannya.

Suatu saat Al-qasim pernah meminta bibinya, Aisyah untuk ditunjukkan kubur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua sahabatnya. kemudian Aisyah menunjukkan tiga kubur itu berada di dalamnya rumahnya, ditutup dengan sesuatu untuk menghalangi pandangan. Beliau memperlihatkan tiga buah makam yang tidak diunggukkan dan tidak pula dicekungkan. Ketiganya ditaburi kerikil merah seperti yang ditaburkan di halaman masjid.

Al-qasim bertanya, “Yang mana makam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Beliau menunjuk salah satu darinya: “Ini.” Bersamaan dengan itu, dua butir air mata bergulir di pipinya, tetapi segera di sekanya agar Al-qasim tak melihatnya. Makam Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu agak lebih maju dari makam kedua sahabatnya.

Al-qasim bertanya lagi, “Lalu yang mana makam kakekku, Abu Bakar?” Sambil menunjuk satu kubur beliau berkata, “Yang ini.” Al-qasim melihat makam kakeknya sejajar dengan letak bahu Rasulullah. Al-qasim berkata, “Yang ini makam Umar?” Beliau menjawab, “Benar.”


Menimba ilmu

Menginjak remaja, cucu Abu Bakar ini telah hafal Kitabullah dan menimba hadis-hadis dari bibinya, Aisyah sebanyak yang dikehendaki Allah. Beliau menghadiri majlisnya Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Ja’far, Abdullah bin Khabbab, Rafi’ bin Khudaij, Aslam pembantu Umar bin Khathab dan sebagainya. Hingga pada gilirannya beliau menadi imam mujtahid dan menjelma menjadi manusia yang paling pandai dalam hal sunah pada zamannya.

Setelah sempurna perlengkapan ilmu pemuda yang merupakan cucu Abu Bakar ini, orang-orang banyak belajar kepadanya dengan penuh perhatian. Sementara beliau memberikan ilmunya tanpa pamrih atau jual mahal. Beliau tak pernah absen untuk pergi ke Masjid Nabawi setiap hari, lalu shalat dua rakaat tahiyatul masjid kemudian duduk di bekas tempat Umar radhiyallahu ‘anhu di Raudhah, yakni tempat antara kubur Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mimbarnya. Selanjutnya berkumpullah murid-muridnya dari segala penjuru untuk menimba ilmu dari sumber yang segar dan bersih, melegakan jiwa-jiwa yang haus akan ilmu.


Menjadi imam Madinah

Tidak membutuhkan waktu lama, akhrinya al-Qasim bin Muhammad dan putra bibinya, Salim bin Abdullah bin Umar, menjadi dua imam Madinah yang terpercaya. Keduanya menjadi tokoh yang ditaati dan didengar tutur katanya kendati keduanya tidak memiliki wilayah jabatan ataupun kekuasaan. Masyarakat mengangkat keduanya karena sifat takwa dan wara’nya. Juga karena pusaka yang berada di dalam dadanya berupa ilmu dan pemahamannya, ditambah lagi karena sifat zuhudnya terhadap apa yang dimiliki oleh manusia serta berharap banyak terhadap apa-apa yang berada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Martabat keduanya mencapai puncaknya hingga khalifah-khalifah Bani Umayah dan para bawahannya hormat kepadanya. Penguasa-penguasa tersebut tidak pernah memutuskan suatu masalah yang pelik kecuali setelah mendengarkan pendapat kedua ulama tersebut.

Sebagai contoh, ketika al-Walid bin Abdul Malik berkeinginan untuk memperluas al-Haram an-Nabawi yang mulia. Rencana ini tidak bisa dilaksanakan tanpa membongkar masjid yang lama pada keempat arahnya dan menggusur rumah istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk perluasan.

Dengan segera, gubernur Madinah Umar bin Abdul Aziz mengundang al-Qasim bin Muhammad dan Salim bin Abdullah bin Umar dan para pemuka kaum muslimin Madinah. Kepada mereka dibacakan surat perintah khalifah yang baru saja diterima. Ternyata mereka gembira dengan apa yang direncanakan oleh Amirul Mukminin dan siap sedia untuk mendukung rencana tersebut.

Kaisar Romawi mendengar rencana pemugaran dan perluasan Masjid Nabawi, maka dia ingin menyenangkan dan mengambil hati Amirul Mukminin. Dikirimnya 100 kilogram emas murni disertai 100 arsitek dari Romawi dan membawa ubin-ubin marmer yang indah. Bantuan tersebut dikirimkan oleh al-Walid kepada Umar bin Abdul Aziz. Wali Madinah ini baru mau memanfaatkannya setelah terlebih dahulu bermusyawarah dengan al-Qasim bin Muhammad.

Di tempat lain, pasukan muslimin terus mendapatkan kemenangan gemilang. Mereka berhasil menjatuhkan benteng-benteng musuh di Konstantinopel dan merebut kota demi kota di bawah pimpinan komandan yang tangkas dan pemberani, Maslamah bin Abdul Malik bin Marwan. Ini adalah awal terbukanya Konstantinopel.


Akhir hayat

Al-Qasim ibn Muhammad telah diberi umur hingga lebih dari tujuh puluh dua tahun. Akan tetapi matanya menjadi buta di saat ia berusia lanjut.

Pada akhir tahun dari kehidupannya, ia menuju ke Mekkah menginginkan haji…dan di tengah perjalanan kematian menjemputnya.

Ketika ajalnya sudah dekat, ia menoleh kepada anaknya dan berkata, “Bila aku mati, kafanilah aku dengan pakaianku yang aku shalat dengannya, yaitu gamisku…sarungku…dan kainku…itu adalah kafan kakekmu Abu Bakar. Kemudian ratakan kuburanku dan pulanglah kepada keluargamu. Dan hati-hatilah (janganlah kamu) berdiri di atas kuburanku dan berkata, “Dahulu ia begini…dan dulu ia begitu….”, karena aku bukanlah siapa-siapa”.

[Sumber: Mereka adalah Para Tabi’in, Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, Cetakan VIII, 2009]