Home » » Sa’id bin Jubair - Tabi'in yang Wafat karena Dipenggal

Sa’id bin Jubair - Tabi'in yang Wafat karena Dipenggal

Masjid Asafi di Lucknow, India
Masjid Asafi di Lucknow, India. [Foto : Wikipedia: Sayed Mohammad Faiz Haider]
Sa’id bin Jubair adalah seorang tabi’in, ahli fiqih dan periwayat hadits yang berkedudukan di Kufah. Ia juga merupakan ahli tafsir dan salah seorang murid dari Ibn Abbas. Karena ketinggian ilmunya sehingga ia digelari Jahbadz al ‘Ulama (pemuka ulama). Dia adalah seorang Imam, Al-Hafidz (yang hafal banyak hadits dalam jumlah tertentu dan menghafal Al-Qur’an), dan salah seorang yang mati syahid.

Sa’id ibn Jubair ibn Hisyam al Asadi, biasa dipanggil Abu Abdillah merupakan keturunan Habasyah (Ethiopia) dan menjadi maula Walibah bin Harits dari Bani Asad. Ia tinggal di Kufah dan menjadi salah seorang tabi’in terkemuka disana.


Kelahiran

Tidak ada seorang pun dari para sejarawan atau yang menulis biografinya yang mengetahui tempat dan waktu kelahirannya. Mereka hanya menjelaskan bahwa dia terbunuh pada bulan Sya’ban tahun 95 Hijriyah. Dia pernah berkata pada puteranya, “Ayahmu tidak akan ada lagi setelah berusia 54 tahun.” Jadi kelahirannya diperkirakan pada tahun 38 Hijriyah.”

Adz-Dzahabi menegaskan bahwa dia dilahirkan  pada masa kekhalifahan Abu Hasan Ali bin Abi Thalib.” Ada juga yang mengatakan,”Dia berumur 49 tahun, jadi dia lahir pada tahun 46 Hijriyah.”


Sifat-sifatnya : 

Adz-Dzahabi berkata, “Ada yang mengatakan bahwa dia berkulit hitam.

Dari Abdullah bin Numair dari Fithr, dia berkata, “Aku melihat Sa’id bin Jubair dengan rambut kepala dan jenggot berwarna putih.” (Tarikh Al-Islam 6/367)

Dari Ayyub, dia berkata, “Said bin Jubair pernah di tanya seseorang tentang Khidhab dengan menggunakan tato, diapun tidak menyukainya, dan dia berkata, “Allah memberi pakaian seorang hamba dengan cahaya yang memancar di wajahnya (kehormatan), kemudian dia mematikannya dengan warna hitam (Tato).”

Dari Isma’il bin Abdul Malik, dia berkata, “Aku melihat Said bin Jubair memakai sorban berwarna putih.” (Thabaqat Ibnu Sa’ad 6/267)

Dari Al-Qasim Al-A’raj, dia berkata, “Pernah pada suatu malam Said menangis hingga penglihatannya rabun.” (Siyar A’lam An-Nubala’ 4/333)


Guru-guru beliau

Abu Sa’id al-Khudri, Adi bin Hatim ath-Thayy, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah ad-Dausi, Abdullah bin Umar dan Ummul Mukminin Aisyah. Tapi guru utamanya adalah Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu.

Dengan setiap Sa’id bin Jubair mengikuti Abdullah bin Abbas layaknya bayangan yang selalu mengikuti orangnya. Dari sahabat inilah beliau menggali tafsir Alquran, hadis-hadis, dan seluk-beluknya. Darinya pula beliau mendalami persoalan agama maupun tafsirnya. Juga mempelajari bahasa hingga mahir dengannya. Dan pada gilirannya, tidak ada seorang pun di muka bumi ini kecuali memerlukan ilmunya.

Selanjutnya, beliau mengembara dan berkeliling di negara-negara muslimin untuk mencari ilmu sesuai kehendak Allah. Setelah merasa cukup, beliau memutuskan Kufah sebagai tempat tinggalnya. Dan kelak beliau menjadi guru dan imam di kota itu.

Beliau menjadi imam shalat bagi kaum muslimin di bulan Ramadhan, terkadang membaca Alquran dengan qira’ah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, terkadang dengan qira’ah Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dan terkadang dengan qira’ah selainnya.

Jika beliau shalat sendirian, adakalanya beliau khatamkan Alquran dalam sekali shalat. Dan sudah menjadi kebiasaan beliau apabila membaca ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“(Yaitu) orang-orang yang mendustakan al-Kitab (Alquran) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” (QS. Al-Mukmin: 70-72)

Atau ketika membaca ayat-ayat serupa yang berisi ancaman, maka menjadi gemetarlah badannya, gentar hatinya, dan menetes air matanya. Kemudian mengulang-ulang ayat tersebut sampai adakalanya hampir pingsan.

Beliau melakukan perjalanan ke Baitullah al-Haram dua kali setiap tahunnya. Pertama adalah pada bulan Rajab untuk melakukan umrah, lalu di bulan Dzulqa’dah hingga usai ibadah haji.


Tentang ketinggian ilmunya

Diceritakan bahwa pada suatu hari Ibn Abbas berkunjung ke Kufah, penduduk setempat meminta fatwa tentang masalah haji. Ibn Abbas menjawab: “ Mengapa kalian meminta fatwa kepada saya, sementara ditengah-tengah kalian ada IbnuUmmu Dahma’ (maksudnya Sa’id ibn Jubair).”

Menurut Qatadah, Sa’id Ibn Zubair adalah seorang tabi’in yang paling alim dalam bidang tafsir Al Qur’an. Dan Sufyan Ats Tsaury berkata dihadapan Ibrahim An Nakha’I :”Ambilah tafsir (Al qur’an)dari 4 orang, yaitu dari Sa’id Ibn Zubair, Mujahid, Ikrimah, dan dari Ad Dahhak”.

Said juga terkenal sebagai seorang pemberani, ia termasuk salah seorang penentang penguasa Irak yang terkenal dzalim waktu itu, Hajjaj bin Yusuf, seorang raja muda Umayah di Irak. Perbincangannya dengan penguasa Irak menunjukan bahwa ia seorang yang sangat pemberani dalam menegakan kebenaran. Sehingga kemudian ia dipancung kepalanya.

Hajjaj membunuh Sa’id pada tahun 95 H (pada usia 49 tahun), kepala Sa’id terisah dengan raganya. Konon, Hajjaj bin Yusuf tidak pernah bisa tidur setelah memancung Sa’id, dan ia bertahan hidup tidak lama, dan meninggal beberapa hari setelah itu. Sebelum meninggal Hajjaj bin Yusuf berkata:” Apa yang terjadi antara aku dan Sa’id. Setiap kali mau tidur, ia selalu menyeret kakiku.”

Diantara ahli Al Qur’an yang pernah belajar kepadanya adalah Abu Amr bin ‘Ala, salah seorang ahli qira’at 7.


Sumber:
  • http://www.hasmi.org/nama-kelahiran-dan-sifat-sifat-sa%E2%80%99id-bin-jubair/
  • http://www.ensikperadaban.com/?%26nbsp%3BTABI%27IN:Tabi%27in_Ahli_Tafsir:Sa%27id_ibn_Jubair_al_Asadi_al_Kufi