Home » » Biografi Laits Bin Sa'ad

Biografi Laits Bin Sa'ad

Masjid Qolşärif di Kazan, Tatarstan
      (Foto Oleh: Thomas)
Laits Bin Sa'ad adalah seorang ulama, ahli fikih, perawi hadits dan cendekiawan Muslim yang hidup pada kekuasaan Bani Umayyah. Nama sebenarnya adalah Al-Laits bin Sa’ad bin Abdurahman al-Fahmi yang mendapat julukan Abu al_Harits adalah guru besar di negeri Mesir.


Kelahirannya

Al-Laits dilahirkan di Qarqasyandah, yaitu sebuah desa yang terletak sekitar empat Farsakh (atau sama dengan 32 km) dari ibu kota Mesir, Cairo.

Al-Laits lahir pada tahun 74 H, namun sebagian orang ada yang mengatakan bahwa ia lahir pada tahun 73 H. menurut Abu Sa'id bahwa pendapat yang benar adalah pendapat pertama, ini juga sebagaimana yang dikatakan oleh Yahya, "Aku mendengar Laits berkata: "Aku dilahirkan pada bulan Sya'ban, pada tahun keempat (maksudnya pada tahun 74 H). Al-Laits juga berkata: "Aku telah menunaikan ibadah haji pada tahun 113 H".

Nenek moyang Laits berasal dari Mesir, mereka mengatakan bahwa nenek moyangnya berasal dari orang Mesir Kuno, tetapi pendapat lain mengatakan bahwa garis nenek moyangnya dari Persia. Keluarganya masuk Islam dan belajar bahasa Arab seperti orang-orang Mesir lainnya.


Sanjungan Para Ulama Terhadapnya 

Dari Syarhabil bin Jamil bin Yazid, budak dari Syarhabil bin Hasanah, dia berkata: "Aku melihat Laits bin Sa'ad berbicara tentang hadits kepada orang-orang pada masa kekuasaan Hisyam, sedangkan di Mesir (pada waktu itu) ada ulama-ulama besar seperti Ubaidillah bin Ja'far, Ja'far bin Rabi'ah, Al-Harits bin Yazid, Yazid bin Abi Habib, Ibnu Hubairah dan yang lain dari penduduk Mesir, mereka adalah ulama-ulama penduduk Mesir, mereka adalah ulama-ulama ahli fiqih penduduk Madinah, mereka mengakui keutamaan, kewara'an Al-Laits dalam memberikan penjelasan kepada orang-orang".

Ibnu Bakir berkata: "Aku melihat banyak orang, namun aku tidak melihat orang seperti Al-Laits".

Dari Abu Al-Walid Abdul Malik bin Yahya bin Bakir, ia berkata: "Aku mendengar ayah pernah berkata: "Aku tidak melihat orang yang lebih sempurna dari Al-Laits bin Sa'ad. Setiap gerakan dari tubuhnya adalah pengamalan dari ilmu fiqih yang ia miliki, mulutnya faqih dalam bebahasa arab, pandai membaca Al-Qur an, menguasai Nahwu, banyak menghafal syair dan hadits, ingatannya bagus, masih banyak lagi kebaikan yang dimilikinya. Ada sepuluh macam kebaikan yang ia miliki, yang hal itu tidak ada yang menyamainya".


Sifat Dermawan Dan Kemuliaannya 

Dari harmalah bin Yahya, ia berkata: "Aku mendengar Ibnu Wahab berkata: "Imam Malik menulis sepucuk surat kepada Al-Laits sebagai berikut; "Aku ingin berkunjung ke rumah anak perempuanku dan suaminya, aku berharap kamu memberikan beberapa burung yang kamu miliki", Ibnu Wahab berkata: "kemudian Al-Laits memberikan 30 burung terbaik kepada malik. Oleh imam Malik sebagian burung-burung itu disembelih untuk dijadikan lauk-pauk dan dibawa ke rumah anak perempuannya, dan sebagian lagi dijual seharga 500 dinar".

Dari Yahya bin Bakr, dia berkata: "Aku pernah mendengar ayahku berkata: "Al-Laits pernah mengutus tiga orang untuk menyedekahkan hartanya hingga mencapai tiga ribu dinar. Utusan tersebut mempunyai masing-masing tugas sebagai berikut: utusan pertama bertugas memberikan kepada Ibnu Lahi'ah yang rumahnya tertimpa musibah kebakaran dengan seribu dinar. Ketika Al-Laits sedang menunaikan ibadah haji, malik bin Anas memberikan anggur yang ditaruh di atas nampan, kemudia Al-Laits menyuruh seseorang mengembalikan nampan tersebut, dengan menghadiahkan seribu dinar kepada Malik. Utusan ketiga bertugas memberikan uang seribu dinar kepada Qadhi yang berna Manshur bin Ammar".


Keteguhannya Mengikuti Sunnah 

Dari Harmalah bin Yahya, dia berkata: "Aku mendengar Asy-Syafi'i berkata: "Al-Laits bin Sa'ad lebih teguh dalam mengikuti atsar dari pada Malik bin Anas".

Dari utsman bin Shaleh ia berkata: "Sebelum munculnya Al-Laits, penduduk Mesir menganggap bahwa Ustman adalah sosok shahabat yang kurang mulia, sehingga Al-Laits tumbuh di tengah-tengah mereka dan menjelaskan keutamaan Utsman, maka mereka pun menganggap Utsman seperti shahabat yang lain, yang mempunyai kemuliaan. Sedangkan penduduk Himsh menganggap Ali adalah sosok shahabat yang kurang mulia, hingga tumbuh di tengah-tengah mereka Ismail bin Iyyas yang menjelaskan kepada mereka tentang keutamaan Ali, maka mereka pun menganggap Utsman seperti shahabat yang lain, yang mempunyai kemuliaan.

Dari Sa'id bin Maryam, dia berkata: "Aku mendengar Al-Laits bin Sa'ad berkata: "Aku telah meriwayatkan selama delapan puluh tahun, meskipun demikian aku tidak pernah tergoda untuk condong kepada orang-orang yang mengikuti hawa nafsu (berbuat bid'ah)".


Al-Laits Ditawari Jabatan Di Mesir 

Dari Abu Bakir ia berkata: "Al-Laits pernah berkata: "Abu Ja'far berkata kepadaku: "Maukah kamu menggantikanku sebagai penguasa di Mesir?". Aku menjawab: "Tidak wahai Amirul mu'minin, aku lebih lemah dari jabatan itu dan aku berasal dari golongan budak". Kemudian Abu Jafar berkata: "Kamu tidak lemah, namun niatmu yang lemah untuk menjalankan roda pemerintahan menggantikanku".


Guru-Guru Laits Bin Sa'ad

Nafi',  Abu Mulaikah,  Yazid bin Abi Habib, Yahya bin Said Al-Anshari, Saudara beliau Abu Rabbah bin Said, Ibnu Ajlan, Az-Zuhri, Hisyam bin Urwah, Atha' bin Abi Rabah, Bakir bin Al-Asyja', dan lain-lain.


Murid Laits Bin Sa'ad

Syu'aib, Muhammad bin 'Ajlan, Hisyam bin Sa'ad, Ibnu Lahi'ah, Hisyam bin Basyir, Qais bin Rabi', 'Athaf bin Khalid, Ibnul Mubarak, Ibnu Wahab, Marwan bin Muhammad, dan selain mereka.


Wafatnya Laits Bin Sa'ad

Yahya bin Bakir dan said bin Abi Maryam berkata: "Al-Laits meninggal pada pertengahan bulan Sya'ban, pada tahun 175 H."

Yahya berkata: "Al-Laits meninggal pada hari jum'at, dan Musa bin Isa ikut mensholatkannya".
Khalid bin Abdussalam ash-Shadafi berkata: "Aku telah menyaksikan jenazah Al-Laits bin Sa'ad dengan ayahku. Aku tidak pernah melihat jenazah yang lebih mulia dari jenazah Al-Laits, aku melihat semua orang menjadi, mereka saling hibur satu sama lain, mereka menangis, hingga aku berkata: "Setiap orang merasa memiliki jenazah itu". Ayahku berkata: "Anakku, kamu tidak akan melihat jenazah seperti dia".

Referensi:
-Kitab “Min A’lamis Salaf” karya, Syaikh Ahmad Farid, edisi indonesia : “60 Bigrafi Ulama Salaf”
-http://www.alsofwah.or.id/cetaktokoh.php?id=269