Home » , » Laksamana Muda Maeda Tadashi - Pemilik Rumah yang Menjadi Tempat Penyusunan Naskah Proklamasi

Laksamana Muda Maeda Tadashi - Pemilik Rumah yang Menjadi Tempat Penyusunan Naskah Proklamasi

Maeda Tadashi
Maeda Tadashi
Lahir: 3 Maret 1898 Kagoshima, Jepang
Meninggal: 13 Desember 1977 (umur 79) Jepang Jepang
Pengabdian: Jepang
Pangkat: Perwira
Laksamana Muda Maeda Tadashi (lahir di Kagoshima, Jepang, 3 Maret 1898 – meninggal 13 Desember 1977 pada umur 79 tahun) adalah seorang perwira tinggi Angkatan Laut Kekaisaran Jepang di Hindia Belanda pada masa Perang Pasifik. Selama pendudukan Indonesia di bawah Jepang, ia menjabat sebagai Kepala Penghubung Angkatan Laut dan Angkatan Darat Tentara Kekaisaran Jepang.

Laksamana Muda Maeda memiliki peran yang cukup penting dalam kemerdekaan Indonesia dengah mempersilakan kediamannya yang berada di Jl. Imam Bonjol, No.1, Jakarta Pusat sebagai tempat penyusunan naskah proklamasi oleh Soekarno, Mohammad Hatta dan Achmad Soebardjo, ditambah sang juru ketik Sayuti Melik. Selain itu, dia juga bersedia menjamin keamanan bagi mereka. Kini, bekas kediamannya itu menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.


Biografi

Jauh sebelum malam 17 Agustus 1945, Maeda telah memiliki hubungan kedekatan dengan bangsa Indonesia. Setelah menjadi Atase di Den Haag dan Berlin di tahun 1930-an, Maeda dipanggil pulang ke Jepang oleh pemerintahnya dan siap menerima tugas baru. Ternyata pimpinan AL Jepang menganggap Maeda figur yang banyak tahu tentang Indonesia setelah menjadi Atase di Den Haag. Dugaan itu tidak meleset sedikit pun. Di Den Haag, Maeda kerap berkomunikasi dengan pelajar Indonesia di Belanda seperti Nazir Pamuntjak, Achmad Subardjo, Hatta dan AA Maramis.

Sudah menjadi hal lumrah bila suatu negara ingin mengekspansi suatu negara lain, maka peranan intelijen sebelumnya dikedepankan. Maeda lah orang yang diutus untuk mempelajari pergerakan Indonesia selama kurang lebih 10 tahun. Setelah Maeda turut memberikan laporan tentang Indonesia maka mulailah peperangan Asia Timur Raya yang disusul dengan menyerang pemerintahan Hindia Belanda di Indonesia hingga muncul peristiwa Kalijati 8 Maret 1942, di mana Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang.

Babak baru di Indonesia pun dimulai dengan bercokolnya pemerintahan militer Jepang. Maeda mendapat tugas sebagai kepala Penghubung Kaigun yang berpusat di Makassar dengan Tentara Angkatan Darat di Jakarta. Dalam tugasnya itu Maeda pun mempekerjakan Subardjo, orang Indonesia yang telah dikenalnya lama sejak di Belanda.

Maeda dan Angkatan Laut pada umumnya lebih memiliki sisi humanism ketimbang Angkatan Darat Jepang yang jauh lebih kejam terhadap rakyat Indonesia. Bahkan, tidak jarang Maeda membantu Sukarno dan Hatta ketika berdebat debat dengan Angkatan Darat Jepang saat menyelesaikan beberapa sengketa masalah rakyat.

Pasca Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom, maka tanda-tanda kekalahan Jepang telah terlihat. Pada 14 Agustus 1945, Angkatan Perang Jepang berkewajiban untuk tunduk kepada segala perintah komandan Angkatan Perang Sekutu, khususnya untuk mempertahankan status quo, yang berarti tidak boleh merubah keadaan sedikitpun di wilayah Indonesia yang didudukinya selama Perang Pasifik. Tidak boleh bertindak di bidang administrasi maupun di bidang politik. Tugas utama dari Balatentara Jepang hanyalah menjaga keamanan dan ketertiban umum.

Rumah Maeda Tadashi
Rumah Maeda Tadashi JL Teji Mejidori No.1 (saat ini Imam Bonjol)
[www.kaskus.co.id]
Berdasarkan pengakuan Achmad Subardjo, akibat dari ketentuan itu bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 adalah suatu peristiwa yang bertentangan dengan status quo yang berlaku semenjak 14 Agustus 1945. Pada saat itu, pihak Kaigun, yaitu Angkatan Laut Jepang yang dipimpin oleh Laksamana Shibata, atas desakan Maeda, mengambil kebijaksanaan yang menyimpang dari status quo.

Maeda pula yang menjamin rapat PPKI pada tanggal 16 Agustus 1945 dilangsungkan. Namun, sebelum rapat itu dimulai dikabarkan Sukarno dan Hatta sebagai ketua dan wakil ketua PPKI menghilang. Baru kemudian diketahui, keduanya dibawa ke Rengasdengklok oleh pemuda dengan maksud diamankan dari Jepang. Subardjo yang menjemput keduanya memberikan jaminan bahwa kemerdekaan akan segera diproklamirkan. Hal itu mengingat karena Subardjo telah memiliki keyakinan bahwa AL Jepang dibawah komando Maeda akan mendukung pelaksanaan itu.

Ternyata benar, malam 17 Agustus pukul 23.00, para anggota PPKI telah berkumpul di rumah Maeda di JL Teji Mejidori No.1 (saat ini Imam Bonjol) dan Maeda mempersilahkan rumahnya dipakai untuk rapat PPKI. Setelah Sukarno, Hatta, dan Subardjo tiba yang disambut Maeda seraya mengucapkan selamat dan meyakinkan tentang jaminan keamanan, ketiganya bergegas ke ruang tengah untuk menyusun teks Proklamasi.

Tepat pukul 03.00, teks itu rampung diketik dan disepakati oleh seluruh anggota PPKI. Pukul 10.00 paginya, status Indonesia sebagai bangsa terjajah resmi berubah menjadi bangsa merdeka setelah dibacakan teks Proklamasi itu oleh Sukarno dan Hatta. Maeda pun bangga atas keberhasilan perjuangan bangsa Indonesia dalam memperoleh kemerdekaannya.

Setelah kedatangan Sekutu pada 2 September 1945, Maeda termasuk yang dieksodus ke Jepang. Pada 13 Desember 1977, Maeda menghembuskan nafas terakhir. Subardjo menuliskan “Dengan wafatnya Laksamana Maeda, Indonesia kehilangan seorang setiakawan yang besar jasanya dalam sejarah Kemerdekaan Indonesia. Pada detik-detik terpenting dalam melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Laksamana menunjukan sifat Samurai Jepang, yang mengorbankan diri dengan rela demi tercapainya cita-cita luhur dari rakyat Indonesia yakni : INDONESIA MERDEKA”.

Jasa-jasa Maeda tetap terkenang bagi bangsa Indonesia hingga saat ini, seorang ekspatriat yang dengan tulus membantu kemerdekaan Indonesia dan sebagai seorang Angkatan Lauat yang akan harum namanya selama Negara Indonesia berdiri.

Sumber:
Wikipedia
Jurnal Maritim