Beranda | 25 Nabi | Tokoh Militer | Tokoh Muslim | Tokoh Wanita

Profil dan Biodata Marsinah - Buruh Perempuan yang Diangkat Sebagai Pahlawan Pasional Indonesia

Marsinah adalah seorang buruh pabrik  yang dianugerahi gelar pahlawan nasional Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto pada 10 November 2025, ia menjadi pahlawan nasional pertama yang lahir pasca kemerdekaan Indonesia. 

Pada tahun 1993 Marsinah menerima Penghargaan Yap Thiam Hien. Penghargaan Yap Thiam Hien adalah sebuah penghargaan yang diberikan oleh Yayasan Yap Thian Hien kepada orang-orang yang dinilai berjasa dalam upaya penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Nama penghargaan ini diambil dari nama pengacara dan pejuang hak asasi manusia Indonesi, Yap Thiam Hien.

Kisah Marsinah  menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, sekaligus bukti bahwa kepahlawanan bisa lahir dari rakyat biasa. Dari ruang pabrik sederhana, suara lantangnya kini menggema sebagai bagian penting dari sejarah perjuangan pekerja Indonesia.

Sebagai seorang aktivis serikat buruh independen, Ia bertindak sebagai negosiator untuk 500 pekerja yang melakukan pemogokan karena perusahaan tempat mereka bekerja gagal menerapkan upah minimum dan otonomi serikat buruh. Pada 5 Mei, ia diculik setelah demonstrasi; jasadnya yang dimutilasi ditemukan empat hari kemudian. Militer diduga terlibat dalam hilangnya dan kematiannya.

Biodata Marsinah - Buruh Perempuan yang Diangkat Sebagai Pahlawan Pasional Indonesia

Marsinah merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, dari pasangan Sumini dan Mastin. Marsinah dibesarkan di bawah asuhan neneknya, Puirah, dan bibinya, Sini, di Nglundo, Jawa Timur. Ia bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Karangasem 189, kemudian melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri 5 Nganjuk. Masa kecilnya diwarnai dengan kegiatan berdagang, menjual makanan ringan untuk membantu menambah penghasilan nenek dan bibinya. Tahun-tahun terakhir sekolahnya dihabiskan di pondok pesantren Muhammadiyah, tetapi pendidikannya terhenti karena kekurangan biaya.

Pada tahun 1989 Ia diterima bekerja di pabrik sepatu Bata di Surabaya, kemudian setahun setelahnya ia pindah ke pabrik jam tangan Catur Putra Surya (sebelumnya bernama Empat Putra Surya) di Sidoarjo. Setelah dilakukan pemindahan ke pabrik mereka di Porong, Marsinah akhirnya dikenal sebagai juru bicara bagi rekan-rekan sesama pekerjanya.

Marsinah adalah salah seorang karyawati PT Catur Putra Surya yang aktif dalam aksi unjuk rasa buruh. Keterlibatan Marsinah dalam aksi unjuk rasa tersebut antara lain terlibat dalam rapat yang membahas rencana unjuk rasa pada tanggal 2 Mei 1993 di Tanggulangin, Sidoarjo.


Perjuangan menuntut hak

Awal Mei 1993 menjadi momen bersejarah. Para pekerja di PT CPS melakukan aksi mogok kerja karena perusahaan tidak melaksanakan kenaikan upah sesuai surat edaran Gubernur Jawa Timur. Marsinah tampil sebagai juru bicara dalam menuntut hak-hak buruh. Ia memperjuangkan upah layak, hak berserikat, dan perlakuan adil bagi semua pekerja. Keberaniannya menghadapi tekanan dan ancaman menjadikannya simbol perjuangan buruh di masa itu.

Namun perjuangan itu berakhir tragis. Pada 5 Mei 1993, Marsinah dinyatakan hilang setelah aksi mogok kerja. Tiga hari kemudian, pada 8 Mei 1993, jasadnya ditemukan di daerah Wilangan, Nganjuk, dengan tanda-tanda kekerasan. Kasus pembunuhan Marsinah menjadi simbol pelanggaran hak asasi manusia dan menyoroti kerasnya represi terhadap buruh di era tersebut. Hingga kini, peristiwa itu masih menjadi luka sejarah bangsa.