Biografi Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi - Imam Besar Masjidil Haram Asal Indonesia

Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi merupakan seorang ulama besar asal Minangkabau yang menjadi Imam Besar Masjidil Haram. Banyak pemimpin reformis Islam Indonesia belajar darinya, termasuk Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama dan Sulaiman Ar-Rasuli, pendiri PERTI.  Oleh masyarakat Koto Gadang, Abdullah ditunjuk sebagai Imam dan khathib. Sejak itulah gelar Khatib Nagari melekat dibelakang namanya dan berlanjut ke keturunannya di kemudian hari.

Biografi Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi - Imam Besar Masjidil Haram Asal Indonesia

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi bin Abdul Lathif bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdul Aziz al-Khathib atau yang kerap dipanggil dengan sapaan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi lahir pada hari Senin 6 Dzulhijjah 1276 H (1860 Masehi) di Koto Tuo, Balai Gurah, IV Angkek, Agam, Sumatera Barat. 

Beliau merupakan putra dari pasangan Abdul Lathif yang berasal dari Koto Gadang dengan Limbak Urai binti Tuanku Nan Rancak. Kakek beliau (KH. Abdullah) adalah seorang ulama kenamaan. Ia bernama lengkap Al ‘Allamah Asy Syaikhul Ahmad Khatib Rahimahullah bin ‘Abdul Lathif bin ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al Minangkabawi Al Jawi Al Makki Asy Syafi’i Al Asy'ari rahimahullah.


Pendidikan

Saat masih kecil, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi sempat mengenyam pendidikan formal, yaitu pendidikan dasar dan berlanjut ke Sekolah Raja atau Kweekschool (dikelola Belanda) yang tamat tahun 1871 M.

Selain pendidikan formal, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi juga belajar mabadi’ (dasar-dasar) ilmu agama dari Syekh Abdul Lathif, sang ayah. Dari sang ayah pula, Ahmad kecil menghafal Al-Quran dan berhasil menghafalkan beberapa juz Al Qur'an.

Pada tahun 1287 H, Ahmad kecil diajak oleh sang ayah, Abdul Lathif, ke Tanah Suci Mekkah untuk menunaikan ibadah haji. Setelah rangkaian ibadah haji selesai ditunaikan, Abdullah kembali ke Sumatera Barat sementara Ahmad tetap tinggal di mekkah untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur'annya dan menuntut ilmu dari para ulama-ulama Mekkah terutama yang mengajar di Masjidil Haram.


Guru-guru

Awal berada di Mekkah, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi berguru dengan beberapa ulama terkemuka di sana seperti :

  1. Sayyid Umar bin Muhammad bin Mahmud Syatha Al Makki Asy Syafi’I (1259-1330 H)
  2. Sayyid Utsman bin Muhammad Syatha Al Makki Asy Syafi’i (1263-1295 H)
  3. Sayyid Bakri bin Muhammad Zainul Abidin Syatha Ad Dimyathi Al Makki Asy Syafi’i(1266-1310 H) –penulis I’anatuth Thalibin.
  4. Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan (wafat 1304) –mufti Madzhab Syafi’i di Mekkah
  5. Yahya Al Qalyubi
  6. Muhammad Shalih Al Kurdi
  7. Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Makkiy


Pernikahan

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi menikah dengan gadis Arab bernama Khadijah yang merupakan anak pertama dari seorang pedagang toko buku bernama Muhammad Shalih Al Kurdi, yang terletak di dekat Masjidill Haram. Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi sering mengunjungi toko tersebut untuk membeli atau sekedar melihat-lihat kitab-kitab Agama Islam, karena ketekunan dan keshalihannya akhirnya pemilik toko tersebut memintanya untuk menikah dengan putrinya. Bukan hanya menikahkan, namun  Al-Kurdi berjanji menanggung semua biaya pernikahan termasuk mahar dan kebutuhan hidup keluarga Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Dari pernikahannya dengan Khadijah, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dikaruniai seorang putra, yaitu Abdul Karim (1300-1357 H), kelak Abdul Karim, memiliki sebuah toko buku di Mekkah. Ternyata pernikahan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dengan Khadijah tidak berlangsung lama karena Khadijah meninggal dunia.

Shalih al-Kurdi, sang mertua, meminta Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi untuk menikah kembali dengan putrinya yang lain, yaitu adik kandung Khadijah yang bernama Fathimah. Fathimah adalah seorang seorang wanita teladan dalam keshalihan dan memiliki hafalan al-Qur’an yang baik. Oleh karena itu tidak heran jika anak-anaknya kelak menjadi orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi di Timur Tengah, yaitu: Abdul Malik. Ketua redaksi koran al-Qiblah dan memiliki kedudukan tinggi di al-Hasyimiyyah (Yordan). Belajar kepada sang sang ayah lalu mempelajari adab dan politik. Abdul Hamid Al Khathib seorang ulama ahli adab dan penyair kenamaan yang pernah menjadi staf pengajar di Masjid al-Haram dan duta besar Saudi untuk Pakistan.


Murid-murid Beliau
  1. Syaikh Muhammad Mukhtar bin Atharid al-Bughuri
  2. Syaikh Tubagus Ahmad Bakri as-Sampuri
  3. Syaikh ‘Abdul Karim bin Amrullah rahimahullah –ayah Ustadz Hamka-. Seorang ulama kharismatik yang memiliki pengaruh kuat di ranah Minang dan Indonesia. Di antara karya tulisnya adalah Al Qaulush Shahih yang membicarakan tentang nabi terakhir dan membantah paham adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad terutama pengikut Mirza Ghulam Ahmad Al Qadiyani.
  4. Syaikh Sulaiman Ar-Rasuli, pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI)
  5. Muhammad Darwis alias Ustadz Ahmad Dahlan bin Abu Bakar bin Sulaiman rahimahullah –pendiri Jam’iyyah Muhammadiyah-.
  6. Ustadz Muhammad Hasyim bin Asy’ari Al Jumbangi rahimahullah –salah satu pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama-.
  7. Ustadz ‘Abdul Halim Majalengka rahimahullah–pendiri Jam’iyyah I’anatul Mubta’allimin yang bekerja sama dengan Jam’iyyah Khairiyyah dan Al-Irsyad
  8. Syaikh ‘Abdurrahman Shiddiq bin Muhammad ‘Afif Al Banjari rahimahullah –mufti Kerajaan Indragiri-.
  9. Muhammad Thaib ‘Umar
  10. KH Mas Abddurahman bin Mas Jamal, pendiri Mathla'ul Anwar (MA)

Keilmuan

Perhatian Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi terhadap hukum waris juga sangat tinggi, kepakarannya dalam mawarits (hukum waris) telah membawa pembaharuan adat Minang yang bertentangan dengan Islam. Martin van Bruinessen mengatakan, karena sikap reformis inilah akhirnya al-Minangkabawi semakin terkenal. Salah satu kritik Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi yang cukup keras termaktub di dalam kitabnya Irsyadul Hajara fi Raddhi 'alan Nashara mengatakan bahwa beliau menolak doktrin trinitas Kristen yang dipandangnya sebagai konsep Tuhan yang ambigu.

Selain masalah teologi, dia juga pakar dalam ilmu falak. Hingga saat ini, ilmu falak digunakan untuk menentukan awal Ramadhan dan Syawal, perjalanan matahari termasuk perkiraan waktu salat, gerhana bulan dan matahari, serta kedudukan bintang-bintang tsabitah dan sayyarah, galaksi dan lainnya.

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi juga pakar dalam geometri dan trigonometri yang berfungsi untuk memprediksi dan menentukan arah kiblat, serta berfungsi untuk mengetahui rotasi bumi dan membuat kompas yang berguna saat berlayar. Kajian dalam bidang geometri ini tertuang dalam karyanya yang bertajuk Raudat al-Hussab dan Alam al-Hussab.


Karya ilmiah

Karya-karya Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi dalam bahasab ’Arab:
  • Hasyiyah An Nafahat ‘ala Syarhil Waraqat lil Mahalli
  • Al Jawahirun Naqiyyah fil A’malil Jaibiyyah
  • Ad Da’il Masmu’ ‘ala Man Yuwarritsul Ikhwah wa Auladil Akhwan Ma’a Wujudil Ushul wal Furu’
  • Raudhatul Hussab
  • Mu’inul Jaiz fi Tahqiq Ma’nal Jaiz
  • As Suyuf wal Khanajir ‘ala Riqab Man Yad’u lil Kafir
  • Al Qaulul Mufid ‘ala Mathla’is Sa’id
  • An Natijah Al Mardhiyyah fi Tahqiqis Sanah Asy Syamsiyyah wal Qamariyyah
  • Ad Durratul Bahiyyah fi Kaifiyah Zakati Azd Dzurratil Habasyiyyah
  • Fathul Khabir fi Basmalatit Tafsir
  • Al ‘Umad fi Man’il Qashr fi Masafah Jiddah
  • Kasyfur Ran fi Hukmi Wadh’il Yad Ma’a Tathawuliz Zaman
  • Hallul ‘Uqdah fi Tashhihil ‘Umdah
  • Izhhar Zaghalil Kadzibin fi Tasyabbuhihim bish Shadiqin
  • Kasyful ‘Ain fi Istiqlal Kulli Man Qawal Jabhah wal ‘Ain
  • As Saifu Al Battar fi Mahq Kalimati Ba’dhil Aghrar
  • Al Mawa’izh Al Hasanah Liman Yarghab minal ‘Amal Ahsanah
  • Raf’ul Ilbas ‘an Hukmil Anwat Al Muta’amil Biha Bainan Nas
  • Iqna’un Nufus bi Ilhaqil Anwat bi ‘Amalatil Fulus
  • Tanbihul Ghafil bi Suluk Thariqatil Awail fima Yata’allaq bi Thariqah An Naqsyabandiyyah
  • Al Qaulul Mushaddaq bi Ilhaqil Walad bil Muthlaq
  • Hasyiyah Fathul Jawwad dalam 5 jilid
  • Fatawa Al Khathib ‘ala Ma Warada ‘Alaih minal Asilah
  • Al Qaulul Hashif fi Tarjamah Ahmad Khathib bin ‘Abdil Lathif
Adapun yang berbahasa Melayu adalah:
  • Mu’allimul Hussab fi ‘Ilmil Hisab
  • Ar Riyadh Al Wardiyyah fi Ushulit Tauhid wa Al Fiqh Asy Syafi’i
  • Al Manhajul Masyru’ fil Mawarits
  • Dhaus Siraj Pada Menyatakan Cerita Isra’ dan Mi’raj
  • Shulhul Jama’atain fi Jawaz Ta’addudil Jumu’atain
  • Al Jawahir Al Faridah fil Ajwibah Al Mufidah
  • Fathul Mubin Liman Salaka Thariqil Washilin
  • Al Aqwal Al Wadhihat fi Hukm Man ‘Alaih Qadhaish Shalawat
  • Husnud Difa’ fin Nahy ‘anil Ibtida’
  • Ash Sharim Al Mufri li Wasawis Kulli Kadzib Muftari
  • Maslakur Raghibin fi Thariqah Sayyidil Mursalin
  • Izhhar Zughalil Kadzibin
  • Al Ayat Al Bayyinat fi Raf’il Khurafat
  • Al Jawi fin Nahw
  • Sulamun Nahw
  • Al Khuthathul Mardhiyyah fi Hukm Talaffuzh bin Niyyah
  • Asy Syumus Al Lami’ah fir Rad ‘ala Ahlil Maratib As Sab’ah
  • Sallul Hussam li Qath’i Thuruf Tanbihil Anam
  • Al Bahjah fil A’malil Jaibiyyah
  • Irsyadul Hayara fi Izalah Syubahin Nashara
  • Fatawa Al Khathib dalam versi bahasa Melayu

Wafat

Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi wafat pada tanggal 13 Maret 1916 M / 9 Jumadil Awal tahun 1334 H di Mekkah, Saudi Arabia. Beliau dimakamkan di Jannatul Mualla, Mekkah, Arab Saudi. Di Jannatul Mualla dikuburkan pula buyut, paman, kakek, istri dan keturunan Nabi Muhammad serta sahabat dan para Alim Ulama.