Biografi Harry Moekti - Rocker Indonesia yang Menjadi Da'i

Biografi Harry Moekti - Rocker Indonesia yang Menjadi Da'i

Harry Moekti atau Harry Mukti adalah mantan rocker Indonesia yang sekarang menjadi dai. Penyanyi dengan nama asli Hariadi Wibowo ini berubah namanya menjadi Harry Moekti ketika banyak yang menanyakan dirinya Harry yang mana dan yang dijawab Harry yang kakaknya Moekti, jadilah dia dipanggil Harry Moekti.


Biografi

Harry Moekti
Hariadi Wibowo lahir di Cimahi, 25 Maret 1957. Pendidikannya dijalani di Cimahi hingga lulus SMA. Hari-hari Hari Moekti dihabiskan di Cimahi dan Bandung. Kemudian sebagai anak tentara, Harry mengikuti orang tuanya yang pindah tugas ke Semarang. Di kota Semarang Harry pernah menjadi room boy di Hotel Patra Jasa Semarang selama satu tahun. Dari kota Semarang pula karier Hari Moekti dalam bidang musik dimulai. Harry dan beberapa kawannya membentuk grup band Darodox (dari bahasa jawa yang berarti nderedeg atau gemetar).

Tahun 1980 sesudah ayahnya meninggal, Harry kembali ke Bandung. Di Bandung, Harry bergabung dengan Orbit band, Primas band bersama Tommy Kasmiri, kemudian New Bloodly band. Perjalanan musik Harry kemudian dilanjutkan di kota Jakarta dengan bergabung bersama Makara dari tahun 1982 sampai tahun 1985. Namun ketika Harry melakukan rekaman solo grup ini bubar. Suatu hal yang dianggap mengangkat kariernya adalah ketika bergabung denga Krakatau pada tahun 1985.

Beberapa rekaman Harry Moekti yang meledak di pasaran antara lain adalah Lintas Melawai pada tahun 1987, Ada Kamu, Aku Suka Kamu Suka dan Satu Kata bersama grup band Adegan. Selama kariernya Harry telah membuat tujuh album rekaman, albumnya yang terkahir adalah Di Sini. Album terakhir itu dibuat ketika Harry mulai menekuni agama Islam lebih mendalam, sehingga Hari tidak melakukan promosi dengan mengadakan show seperti yang dilakukan setiap penyanyi ketika albumnya muncul. Akibatnya album terakhir itu kurang laku di pasaran.

Dunia yang dekat petualangan alam adalah dunia Harry yang lainnya ketika masih menjadi penyanyi. Ia sempat membuat klub panjat tebing di Sukabumi, juga menjadi anggota SAR, aktif dalam olahraga Arung Jeram (search and Rescue) kemudian mengikuti kursus terjun payung di Australia. Semua itu dilakukannya dari tahun 1990 sampai 1996.


Karir

Sebelum menjadi seorang ustad, Harry Moekti lebih dikenal sebagai rocker. Ia mengawali karir bernyanyinya dengan mengikuti Festival Lagu Populer Indonesia pada tahun 1989. Festival ini kemudian menelurkan Album Kompilasi pada tahun yang sama. Di album yang juga turut melambungkan nama Ruth Sahanaya, Trio Libels, Tetty Manurung, Connie Constantia,dan Emilia Contessa ini Harry Moekti mengeluarkan hits single berjudul AKU SUKA, KAMU SUKA.

Hits ini langsung meledak di pasaran. Hits ini melambungkan namanya di belantika music Indonesia pada era 1988 hingga 1994-an dan berhasil terjual ratusan ribu kopi kaset di seluruh Indonesia.

Pada tahun 1993 ia mengeluarkan sebuah album pribadi berjudul MAUKAH KAMU di bawah bendera rekaman Granada Record. Album yang diproduseri oleh Max Wenas ini memuat lagu berjudul HUJAN RINDU, NONA NONA NONA, ADA KAMU dan tentu saja lagu andalannya yang berjudul MAUKAH KAMU dan AKU SUKA KAMU SUKA.

Harry Moekti juga sempat membentuk sebuah band bernama Makara Band. Band ini dibentuknya bersama teman – temannya semasa kuliah di UI. Band yang terdiri dari Januari Irawan (bass), Andy Julias (drum), Kadri (vokal), Adi Adrian (keyboard), Agus Anhar (gitar), dan juga Harry Moekti (lead vokal) ini mempunyai hits terkenal yaitu LARON LARON yang kental dengan pengaruh band ELP, Genesis, Saga, dan Yes.


Kehidupan pribadi

Sebelum menikahi istrinya saat ini yaitu Ummu Haura, Harry Moekti sebelumnya telah menikah dengan seorang perempuan bernama Yuli Agustina. Namun sayang, pernikahannya dengan wanita kelahiran Sukabumi, 13 Juli 1976 ini harus berakhir dengan perceraian.

Dunia glamor keartisan sangat membutakan kehidupannya. Hingga pada tahun 1994 ia menemukan sebuah titik pencerahan.

Pada malam pergantian tahun 1995, Harry diundang untuk mengisi sebuah acara konser. Ia mendapati bahwa penyanyi Anggun C. Sasmi mendapatkan bayaran yang lebih tinggi dari dirinya. Saat itulah ia menyadari bahwa hidupnya telah dipenuhi dengan kemarahan dan kedengkian.

Tak berapa lama kemudian ia bertemu dengan seorang ustadz yang membukakan pintu pencerahan untuknya. Sekitar tahun 1995 ia membuat keputusan mengejutkan. Secara resmi ia menyatakan mundur dari dunia keartisan yang membesarkan namanya.

Tahun 1996 ia semakin mendalami Islam dan ia bergabung dengan HIZBUT TAHRIR INDONESIA (HTI). Sejak saat itu ia semakin rajin berdakwah menyebarkan ajaran Islam. Praktis, ia telah secara total meninggalkan dunia keartisan.


Meninggal dunia

Harry Moekti  meninggal dunia pada hari Minggu malam, 24 Juni 2018 pada usia 61 tahun. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya saat menuju RS Dustira Cimahi karena serangan Jantung, stroke. Dinyatakan meninggal secara medis pukul 20.49 WIB. Rencananya hari Senin pagi 25 juni 2018 akan mengisi acara Hijrah Story bersama Ray Syahreza (ex grup band Nine Ball) di MT. Nuurun Nisaa.


Sumber:
  • https://www.kapanlagi.com/harry-moekti/profil/
  • https://id.wikipedia.org/wiki/Harry_Moekti
Baca Selengkapnya
Profil Buya Yahya - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon

Profil Buya Yahya - Pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon

Yahya Zainul Ma'arif atau yang lebih akrab disapa Buya Yahya adalah pengasuh Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon. Beliau juga dikenal luas oleh masyarakat Indonesia yang melihat dakwahnya di Media sosial seperti Youtube dan Facebook.


Biografi

Pendidikan

Buya Yahya
Buya Yahya lahir di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, 10 Agustus 1973. Mbah Jamzuri atau akrab disapa Mbah Kakung/Akung adalah Ayah Buya Yahya yang mendidik Buya dari kecil, namun Ibu beliau "Mbah Uti" yang paling banyak memberikan Tarbiyah sehingga sekarang kita mengenal Sosok Besar Pemersatu Ummat "Buya Yahya"

Yahya Zainul Ma'arif menempuh pendidikan sekolah dasar hingga SMP di tanah kelahirannya yakni Kabupaten Blitar.

Tahun 1988 sampai 1993, Buya Yahya mengambil pendidikan di Pesantren Darullughah Wadda’wah di Bangil Pasuruan, Jawa Timur, di bawah asuhan Al Murobbi Al Habib Hasan Bin Ahmad Baharun.

Setelah lulus dari pesantren Darullughah, beliau sempat mengajar di sana selama 3 tahun hingga 1996 sebagai masa khidmah ke pesantren tempatnya menimba ilmu.

Selesai masa khidmah, atas perintah gurunya, Al Murobbi Al Habib Hasan Baharun, Buya Yahya berangkat ke Universitas Al-Ahgaff hingga tahun 2005.


Awal berdakwah dan merintis Pesantren

Buya Yahya mendapat izin untuk berdakwah pada akhir tahun 2006 setelah menghadap Al Murobbi di Yaman. Awalnya, beliau hanya memulai dengan memasuki mushala-mushala kecil hingga berlanjut di majelis-majelis taklim. Masjid terbesar Cirebon, Masjid At-Taqwa Alun-alun, menjadi tempat Buya Yahya berdakwah setiap Senin.

Awalnya, jemaah yang menghadiri ceramah Buya Yahya hanya berjumlah 20 orang. Namun, lambat laun jemaah lainnya mulai memenuhi ruangan dan halaman masjid.

Buya Yahya kemudian kerap meghadiri puluhan majelis taklim di berbagai tempat di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Majalengka, Kuningan, Indramayu, dan di wilayah Jabodetabek.

Buya Yahya tidak membatasi diri pada masjid untuk berdakwah. Beliau juga berdakwah di beberapa swalayan dan toserba. Majelis asuhan Buya Yahya diberi nama Majelis Al-Bahjah, yang sekaligus menjadi nama pesantren rintisannya.

Bagi Buya Yahya, kehadiran pesantren Al-Bahjah adalah sebagai bagian dari upaya menyampaikan dakwah Rasulullah SAW.


Mendirikan Pondok Pesantren

Majelis Al-Bahjah yang dirintis Buya Yahya akhirnya berkembang menjadi sebuah pesantren pada Juni 2008, pesantren tersebut dibangun Buya di kelurahan Sendang Kecamatan Sumber Kabupaten Cirebon. Pesantren ini dibangun atas dasar semakin banyaknya permintaan warga yang ingin menitipkan anaknya di pesantren. Setelah kurang lebih satu setengah tahun, tepatnya 10 Januari 2010, pesantren itu diresmikan.

Buya Yahya mendirikan Lembaga Pengembangan Da'wah dan Pondok Pesantren dengan nama Al-Bahjah yang pusatnya berada di wilayah Kabupaten Cirebon.

Al-Bahjah memiliki beberapa kampus, kampus utama yang beralamat di Jalan Pangeran Cakra Buana No. 179, Blok Gudang Air, Kelurahan Sendang, Kecamatan Sumber, Kabupaten Cirebon, mulai dibangun pada Juni 2008. Al-Bahjah memiliki banyak unit usaha; ada minimarket AB Mart, Al-Bahjah Tour & Travel, Sekolah Dasar Islam Qur’ani (SDIQu) Al-Bahjah, SMPIQU al Bahjah, SMAIQu al Bahjah,Al Bahjah TV, Radio_QU, dan masih banyak lagi. Berbagai unit usaha tersebut rata-rata digerakkan para santri, yang disebut Santri Khos, atau santri khusus. Santri Khos tak cuma bergerak dalam bidang dakwah maupun sosial, ada juga yang bertugas di dapur umum.

Pesantren ini kental dengan nuansa Nahdliyin. Meskipun begitu, pesantren ini bukan milik ormas Nahdlatul Ulama (NU). Salah satu peraturan di Al-Bahjah, para santri diharuskan berbahasa Arab dalam keseharian. Bagi santri baru, diberi waktu tiga bulan untuk beradaptasi.


Sumber:
Baca Selengkapnya
Pelawak Gogon Meninggal Dunia, Ini Biografi lengkapnya

Pelawak Gogon Meninggal Dunia, Ini Biografi lengkapnya

Gogon
Margono alias Gogon adalah seorang aktor dan pelawak Indonesia yang dikenal luas masyarakat melalui grup lawak Srimulat. Ia pernah menjadi anggota grup lawak "Srimulat" sejak tahun 1970an.

Margono alias Gogon lahir di Surakarta, Jawa Tengah, 31 Desember 1959. Ia selalu tampil dengan menonjolkan rambut jambul dan kumis pendeknya, sehingga mirip aktor Charlie Chaplin yang terkenal di era film bisu.. Selain itu, saat melawak ia sering memperlihatkan gerakan lucunya yang khas yaitu dengan mendekapkan kedua tangannya di dada agak atas.

Pria yang pernah menikah dengan Mustika (1979-Cerai) ini pernah ditangkap polisi pada tahun 2007 atas tuduhan penggunaan narkoba. Dalam kasus tersebut pelawak yang pernah bermain di film Finding Srimulat (2013) ini dijerat Undang-undang Nomor 5 Tahun 1997 Pasal 62 tentang penggunaan psikotropika dengan ancaman hukuman lima tahun dan denda Rp100 juta.

Margono atau Gogon Srimulat meninggal dunia pada pukul 05.00 WIB di RS Kota Bumi, 15 Mei 2018 pada umur 58 tahun. Pria yang aktif di dunia lawak 1980–2018 ini meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Ari.
Baca Selengkapnya
Biografi Fatimah al Fihri - Wanita Pendiri Universitas Pertama dan Tertua di Dunia

Biografi Fatimah al Fihri - Wanita Pendiri Universitas Pertama dan Tertua di Dunia

Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko
Universitas Al-Qarawiyyin
Fatima binti Muhammad Al-Fihriya Al-Qurashiya (Arab: فاطمة بنت محمد الفهرية القرشية‎), sering dijuluki Oum al-Banine adalah pendiri universitas pertama di dunia, Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko. Fatima, lahir pada tahun 800 M di Kairouan, Tunisia, adalah anak seorang saudagar kaya, Muhammad Al-Fihri. Fatimah konon terkenal dengan jiwa pebisnis dan saudagar sukses.

Fatimah al Fihri lahir dari keluarga Fihri pada 800 M di Kairouan Tunisia, Maroko. Ayah Fatimah, Muhammad al-Fihri, seorang pengusaha sukses di kota Tunisia yang kemudian bermigrasi ke Fes, Maroko. Fatimah al-Fihri hidup dalam keluarga yang sangat kaya dan keturunan bangsawan. Meskipun berasal dari keluarga kaya dan bangsawan, mereka memiliki kepedulian dan kepekaan pada sesama serta memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sering menyambung silaturahmi dengan semua kalangan dan gemar berderma. Bersama keluarga besar, adik semata wayangnya, Maryam, hijrah dari kota kelahirannya ke Fes saat ia masih kecil.

Di masa Raja Idris ll, awal abad ke-9, Fatimah beserta keluarganya hijrah dari Qayrawan (Tunisia), ke Kota Fez di Maroko. Fez kala itu terkenal sebagai kota metropolitan, dengan penduduk Muslim non-Arab. Kota yang sangat maju. Aktivitas ekonomi saat itu berkembang sangat pesat. Menariknya, di sana terjadi harmoni antara kebudayaan kosmopolitan dan budaya tradisional. Dari sini, Kota Fez berkembang menjadi salah satu kota Muslim yang berpengaruh besar dan diperhitungkan.

Sejak hijrah di kota baru, mereka sukses berdagang dan menjadi salah satu pebisnis ternama. Agama merupakan ruh utama di keluarga besar Fihri. Meski terkenal kaya, mereka tak antisosial. Seringkali menggelar kegiatan amal dengan melibatkan para dhuafa.

Fatimah tidak pernah belajar di luar rumah, namun keluarga tercintanya menjadi madrasah utama yang telah mampu mencetak karakternya selama ini. Sumbangsih monumentalnya terhadap dunia Islam, yakni pendirian Masjid al-Qarawiyyin (al-Karaouine), terkenal juga dengan julukan Masjid Jami’ al-Syurafa’.

Bersama saudarinya (Maryam), Fatimah memiliki semangat, keinginan, dan misi yang sama. Mereka menginginkan agar harta warisan orangtuanya bisa bermanfaat dan pahalanya tetap mengalir. Fatimah berkarya melalui Masjid al-Qarawiyyin, sedangkan Maryam membangun Masjid al-Andalus. Kelak, kedua lokasi tersebut mempunyai posisi dan peran penting dalam penyebaran Islam di Maroko dan Eropa saat itu.

Pembangunan al-Qarawiyyin rampung pada awal Ramadhan 245 H atau bertepatan dengan 30 Juni 859 M. Fatimah yang bergelar Umm al- Baninin mengawasi langsung proses pembangunan masjid yang terkenal pula dengan sebutan Jami’ as-Syurafa’ sejak awal. Mulai dari pemilihan lokasi hingga soal arsitekturnya.

Terkait lokasi masjid, Fatimah menyadari sepenuhnya arti kota Fes, Maroko. Letaknya yang sangat strategis memungkinkan para sarjana dan cendekiawan Muslim datang di masjid itu. Fes merupakan kota berpengaruh sepanjang abad dan berposisi sebagai pusat agama dan budaya.

Di tangan Fatimah, proses pembangunan masjid yang berdiri pada masa pemerintahan Dinasti Idrisiyah tersebut penuh dengan kisah-kisah spiritual. Konon, Fatimah berpuasa selama pembangunan berlangsung. Seluruh biayanya berasal dari kantong pribadinya.

Bahkan, ia tak ingin mengambil material apa pun yang diambil dari orang lain. Pasir dan air sebagai material pokok diperoleh di lokasi tempat masjid berdiri tegak. Seperti yang dinukilkan, Fatimah memerintahkan para pekerja agar menggali sedalam-dalamnya untuk mendapatkan pasir sehingga tidak mengambil hak orang lain.

Sejak itulah, al-Qarawiyyin mengundang ketertarikan para sarjana dan cendekiawan Muslim. Kajian ilmu sering berlangsung di sana. Penuntut ilmu pun berdatangan dari penjuru Maroko, negara-negara Arab, bahkan penjuru dunia. Dalam waktu yang singkat, Fes mampu bersanding sejajar dengan pusat ilmu pada masa itu, yaitu Cordova dan Baghdad.

Secara resmi pada masa al-Murabithi para ulama diberikan tugas formal untuk mengajar di al-Qarawiyyin. Data sejarah menyebut sistem pendidikan formal berlangsung di Masjid al- Qarawiyyin pada masa al-Murini. Ketika itu, dibangun banyak unit kelas lengkap dengan fasilitas pengajaran, seperti kursi dan beberapa lemari.

Universitas ini menghasilkan para pemikir ternama. Ada pakar matematika Abu al-Abbas az-Zawawi, pakar bahasa Arab dan seorang dokter Ibnu Bajah, serta pemuka dari Mazhab Maliki, Abu Madhab al-Fasi. Ibnu Khaldun, sosiolog tersohor itu konon juga pernah belajar di kampus ini. Al- Qarawiyyin juga merupakan pusat dialog antara kebudayaan Barat dan Timur.

Masjid Al-Qarawiyyin (terkenal juga dengan julukan Masjid Jami’ al-Syurafa’) dan Masjid al-Andalus kemudian bertransformasi menjadi universitas, yang kelak menjadi kiblat dunia pendidikan modern. Mulai dari kurikulum, sistem pengajaran, sampai ke urusan simbol akademik. Hingga kini, pakaian mahasiswa (toga) a la Fatimah al-Fitri masih dipakai oleh kampus-kampus di segenap penjuru dunia. Toga yang berbentuk segi empat itu merupakan simbol yang diinspirasi dari bentuk Kakbah di Makkah, sebagai kiblat umat Islam.

Seorang filsuf Yahudi Maimonides (Ibn Maimun) belajar di al-Qarawiyyin di bawah asuhan Abd al-Arab Ibnu Muwashah. Demikian pula, al- Bitruji (Alpetragius). Dengan kata lain, Fatimah meninggalkan warisan berharga bagi generasi Muslim di seluruh dunia. Hingga kini, nama sosok yang wafat pada 266 H/ 880 M itu abadi, sekokoh masjid sekaligus universitas (al-Karaouine) yang ia bangun.

Fatimah al-Fihri, nama yang hampir terlupa dalam dunia pendidikan. Padahal dialah Muslim pertama yang mendirikan perguruan tinggi. Dengan latarbelakang sebagai pedagang, ia berhasil membangun masjid yang kemudian menjadi universitas. Universitas pertama dalam sejarah Islam. Ia wafat pada 266 H/ 880 M.
Baca Selengkapnya
Biografi Abu Hurairah -  Sahabat Nabi Periwayat Hadits

Biografi Abu Hurairah - Sahabat Nabi Periwayat Hadits

Abu Hurairah
Abdurrahman bin Shakhr Al-Azdi (bahasa Arab: عبدالرحمن بن صخر الأذدي) atau yang lebih dikenal dengan panggilan Abu Hurairah (bahasa Arab: أبو هريرة), adalah seorang Sahabat Nabi yang terkenal dan merupakan periwayat hadits. Ibnu Hisyam berkata bahwa nama asli Abu Hurairah adalah Abdullah bin Amin dan ada pula yang mengatakan nama aslinya ialah Abdur Rahman bin Shakhr.

Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits dari Nabi Muhammad, yaitu sebanyak 5.374 hadits. Di antara yang meriwayatkan hadist darinya adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan lain-lain. Imam Bukhari pernah berkata: "Tercatat lebih dari 800 orang perawi hadits dari kalangan sahabat dan tabi'in yang meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah".

Marwan bin Hakam pernah menguji tingkat hafalan Abu Hurairah terhadap hadits Nabi. Marwan memintanya untuk menyebutkan beberapa hadits, dan sekretaris Marwan mencatatnya. Setahun kemudian, Marwan memanggilnya lagi dan Abu Hurairah pun menyebutkan semua hadits yang pernah ia sampaikan tahun sebelumnya, tanpa tertinggal satu huruf.

Salah satu kumpulan fatwa-fatwa Abu Hurairah pernah dihimpun oleh Syaikh As-Subki dengan judul Fatawa' Abi Hurairah. Abu Hurairah sejak kecil tinggal bersama Rasulullah.


Masa muda

Abu Hurairah diperkirakan lahir 21 tahun sebelum hijrah, berasal dari kabilah Bani Daus dari Yaman. Sejak kecil ia sudah menjadi yatim. Ketika mudanya ia bekerja pada Basrah binti Ghazawan, yang kemudian setelah masuk Islam dinikahinya. Nama aslinya pada masa jahiliyah adalah Abdus-Syams (hamba matahari) dan ia dipanggil sebagai Abu Hurairah (ayah/pemilik kucing) karena suka merawat dan memelihara kucing.

Diriwayatkan atsar oleh Imam At-Tirmidzi dengan sanad yang mauquf hingga Abu Hurairah. Abdullaah bin Raafi' berkata, "Aku bertanya kepada Abu Hurairah, "Mengapa engkau bernama kuniyah Abu Hurairah?" Ia menjawab, "Apakah yang kau khawatirkan dariku?" Aku berkata, "Benar, demi Allah, sungguh aku khawatir terhadapmu." Abu Hurairah berkata, "Aku dahulu bekerja menggembalakan kambing keluargaku dan di sisiku ada seekor kucing kecil (Hurairah). Lalu ketika malam tiba aku menaruhnya di sebatang pohon, jika hari telah siang aku pergi ke pohon itu dan aku bermain-main dengannya, maka aku diberi kuniyah Abu Hurairah (bapaknya si kucing kecil)."


Masuk Islam

Seorang pemimpin Bani Daus bernama Thufail bin Amr, kembali ke kampungnya setelah bertemu dengan Nabi Muhammad dan menjadi muslim. Ia menyerukan untuk masuk Islam, dan Abu Hurairah segera menyatakan ketertarikannya meskipun sebagian besar kaumnya saat itu menolak. Ketika Abu Hurairah pergi bersama Thufail bin Amr ke Makkah, Nabi Muhammad mengubah nama Abu Hurairah menjadi Abdurrahman (hamba Maha Pengasih). Ia tinggal bersama kaumnya beberapa tahun setelah menjadi muslim, sebelum bergabung dengan kaum muhajirin di Madinah tahun 629. Abu Hurairah pernah meminta Nabi untuk mendoakan agar ibunya masuk Islam, yang akhirnya terjadi. Ia selalu menyertai Nabi Muhammad sampai dengan wafatnya Nabi tahun 632 di Madinah.

Abu Hurairah pernah diangkat oleh Umar bin Khattab menjadi gubernur wilayah Bahrain untuk masa tertentu. Saat Umar bermaksud mengangkatnya lagi untuk yang kedua kalinya, ia menolak. Ketika perselisihan terjadi antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sufyan, ia tidak berpihak kepada salah satu di antara mereka.

Abu Hurairah termasuk salah satu di antara kaum fakir muhajirin yang tidak memiliki keluarga dan harta kekayaan, yang disebut Ahlush Shuffah, yaitu tempat tinggal mereka di depan Masjid Nabawi. Abu Hurairah mempunyai seorang anak perempuan yang menikah dengan Said bin Musayyib, yaitu salah seorang tokoh tabi'in terkemuka.


Wafat

Abu Hurairah diriwayatkan wafat tahun 678 atau tahun 59 H di umur 78 tahun, maka  jarak dari wafatnya Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam  dengan wafatnya Abu Hurairah sekitar 47 tahun. Sebelum meninggal, Abu Hurairah jatuh sakit, meninggal di Madinah, dan dimakamkan di Baqi'.

Di riwayatkan dari Nafi’ Rahimahullah bahwa saat Abu Hurairah wafat aku dan Ibnu Umar radhiallahu anhu ikut mengiringi jenazah, dan ibnu Umar Radhiallahu anhuma tak lepas mendoakan Abu Hurairah lalu ia berkata, “ orang ini adalah orang yang paling hafal hadist Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam “.
Baca Selengkapnya