Home » » Biografi Depati Parbo Pahlawan Kerinci

Biografi Depati Parbo Pahlawan Kerinci

Depati Parbo
Depati Parbo adalah seorang pahlawan Kerinci yang turut berjuang melawan penjajah Belanda. Namanya diabadikan menjadi nama jalan protokol yang menghubungkan kota Sungai Penuh dengan kecamatan Danau Kerinci kabupaten Kerinci. Lalu dipakai sebagai nama bandara perintis di Kerinci dan nama salah satu perguruan tinggi di Sungai Penuh.

Selain itu patung Depati Parbo bisa dijumpai di halaman kantor DPRD Kerinci dan di simpang tiga jalan RE Martadinata, jalan Pancasila dan jalan Depati Parbo di kota Sungai Penuh. Berdiri gagah berani mengenakan baju adat depati dan menghunus keris.


Biografi

Depati Parbo dilahirkan pada tahun 1839 di desa Lolo Kecil, kecamatan Bukit Kerman kabupaten Kerinci. Sekitar 45 menit dari kota Sungai Penuh. Tidak jauh dari jalan raya Jujun-Lempur. Ia terlahir dengan nama Mohammad Kasib, dan menuntut ilmu serta menghabiskan masa kecilnya di desa kelahirannya. Depati Parbo adalah gelar yang disandangnya ketika dewasa karena kecakapannya dalam pendidikan dan adat.

Ayahnya bernama Bimbe, sedangkan ibunya bernama Kembang. Beberapa kajian mendapati bahwa nama sebenarnya Depati Parbo saat kecil adalah Ahmad Karib. Depati Parbo memiliki tiga orang saudara perempuan yang bernama Bende, Siti Makam, dan Likom. Dikabarkan bahwa Depati Parbo atau Karib sejak kecil memiliki berbagai keanehan, antara lain memiliki gigi geraham berwarna kehitaman. Oleh karena itu masyarakat setempat memanggil Karib dengan Germon Besol.

Sebagaimana di kampung lainnya di Kerinci, sebagai seorang remaja Karib juga ikut dan senang belajar bela diri silat serta ilmu agama yang dilengkapi ilmu kebatinan. Setelah dewasa Karib mempersunting seorang gadis bernama Timah Sahara dan dikaruniai seorang anak yang diberi nama Ali Mekah. Untuk mengemban tugasnya sebagai seorang suami dan ayah, Karib memilih untuk merantau ke Batang Asai mengikuti jejak sejumlah orang Kerinci merantau bekerja sebagai pendulang emas. Selain ke Batang Asai, Karib juga melanglang buana ke beberapa daerah di Sumatera Selatan, seperti Rawas. Selain mencari nafkah untuk menyambung hidup, beliau juga aktif mencari ilmu bela diri dan kebatinan. Kegiatan ini dilakukannya sejak tahun 1859 hingga 1862.

Sebagai pemuda yang cerdas dan terampil di kampungnya, Karib akhirnya dilantik dan dikukuhkan sebagai seorang depati dalam sebuah upacara tradisional kanduhai sko (kenduri pusako). Karib diberi gelar Depati Parbo. Dengan demikian Karib tidak hanya memikirkan kehidupan keluarganya saja, tetapi sebagai depati beliau juga harus memikirkan masyarakatnya, bahkan hingga ke Kesultanan Jambi.


Ditangkap dan diasingkan

Menurut sejarah, Belanda masuk ke Kerinci lewat Mukomuko (Bengkulu) pada tahun 1900. Mereka menyusuri sungai Manjuto lalu membangun posko di puncak bukit Gunung Raya. Tindakan ini memicu kemarahan rakyat Kerinci. Pertempuran pertama antara rakyat Kerinci melawan Belanda dipimpin oleh Depati Parbo pecah di Manjuto Lempur. Korban banyak berjatuhan di pihak Belanda.

Beberapa kali berperang, akhirnya Belanda berhasil menguasai seluruh wilayah Kerinci pada tahun 1903. Untuk melemahkan perjuangan rakyat, Belanda menipu Depati Parbo dengan membujuknya untuk mengikuti perundingan. Nyatanya beliau ditangkap lalu diasingkan selama 25 tahun ke Ternate, Maluku Utara. Pada tahun 1927 Depati Parbo dibawa pulang ke Kerinci atas permohonan depati-depati mengingat usianya sudah lanjut. Saat itu pergolakan rakyat Kerinci melawan Belanda sudah padam sama sekali.

Depati parbo yang telah lanjut usia hidup  menetap di kampung halamannya di dusun Lolo Kecil. Meski Depati  Parbo telah bebas dari hukuman,.namun  gerak geriknya masih tetap  diawasi dan dicurigai oleh pemerintah kolonial, pernah selama 3 bulan Depati Parbo kembali ditanngkap dan ditahan oleh Belanda di Sungai  Penuh. Penahanan ini dilakukan karena beliau melarang pemerintah   kolonial Belanda membuat jalan pada sawahnya yang menghubungkan dusun Lolo Kecil dengan Talang Kemuning. Namun dakwaan yang diajukan adalah karena beliau telah melakukan Pembunuhan, yang ternyata setelah diselidiki  tuduhan itu fitnah belaka.


Naik Haji

Di usia senjanya beliau tetap semangat untuk menunaikan rukun islam yang kelima. Kembali dari menunaikan  ibadah haji, Depati Parbo mendapat nama ‘Haji Kasian”. Saat menunaikan ibadah Haji beliau telah memasuki usia renta  (Manula) dan karena sudah tua aktifitas beliau hanya melaksanakan ibadah.


Wafat

Pada tahun 1929 Panglima Perang Kerinci” Depati Parbo “menghembuskan nafas terakhir menghadap  Illahi dengan tenang, jenazah beliau dimakamkan  di pemakaman keluarga dusun Lolo Kecamatan Gunung Raya, almarhum dimakamkan bersama sama  dengan jenazah  Istri, putra putri dan sanak keluarganya. Beliau meninggal pada umur 89 tahun.


Sumber: