Home » » Prabu Geusan Ulun - Penerus Kepemimpinan Pakuan Pajajaran

Prabu Geusan Ulun - Penerus Kepemimpinan Pakuan Pajajaran

Makam Prabu Geusan Ulun
Makam Prabu Geusan Ulun. Terletak di komplek pemakaman Dayeuh Luhur Kabupaten Sumedang.
Pangeran Angkawijaya yang tekenal dengan gelar Prabu Geusan Ulun dalam silsilah keluarga Sumedang adalah putra Pangeran Kusumahdinata I (Pangeran Santri) dan Ratu Pucuk Umun. Selain dianggap sebagai raja daerah/ mandala Kerajaan Sumedang Larang juga mendapat gelar jabatan NALENDRA dari Kerajaan Pakuan Pajajaran, dia dijadikan titik tolak urutan para keturunan Sumedang serta diposisikan sebagai Bupati pertama walaupun istilah Bupati belum dikenal pada waktu itu. Mulailah urutan para penguasa atau Bupati yang memerintah Sumedang secara turun menurun, dimulai dari pewarisan kekuasaan/ kerajaan kepada salah satu putranya yang bernama Prabu Geusan Ulun / Pangeran Kusumadinata II dan bergelar nalendra yang memerintah dari tahun 1578 sampai tahun 1601.

Pangeran Angkawijaya (kelak bergelar Prabu Geusan Ulun) lahir pada tanggal 3 bagian terang bulan srawana tahun 1480 saka (+ 19 Juli 1558). Ia adalah putera dari pasangan Pangeran Santri dan Ratu Pucuk Umun. Dari pernikahan Ratu Pucuk Umun dengan Pangeran Santri, dikaruniai enam putera, yaitu :
  1. Raden Angkawijaya (Prabu Geusan Ulun)
  2. Kyai Rangga Haji.
  3. Kyai Demang Watang.
  4. Santowan Wirakusumah (Dalem Pagaden – Subang)
  5. Santowan Cikeruh.
  6. Santowan Awi Luar.

Diangkat menjadi raja Sumedanglarang

Pada tahun 1578 tepatnya pada hari Jum’at legi tanggal 22 April 1578 atau bulan syawal bertepatan dengan Idul Fitri di Keraton Kutamaya Sumedanglarang Ratu Pucuk Umum dan Pangeran Santri menerima empat Kandaga Lante yang dipimpin oleh Sanghyang Hawu atau Jaya Perkosa, Batara Dipati Wiradidjaya (Nangganan), Sangyang Kondanghapa,   dan Batara Pancar Buana Terong Peot membawa pusaka Pajajaran “Mahkota Binokasih” yang dibuat pada masa Prabu Bunisora Suradipati (1357 – 1371), Mahkota tersebut kemudian di serahkan kepada penguasa Sumedanglarang dan pada masa itu pula Pangeran Angkawijaya dinobatkan sebagai raja Sumedanglarang dengan gelar Prabu Geusan Ulun (1578 – 1601) sebagai nalendra penerus kerajaan Sunda dan mewarisi daerah bekas wilayah Pajajaran, sebagaimana dikemukakan dalam Pustaka Kertabhumi I/2 (h. 69) yang berbunyi; “Ghesan Ulun nyakrawartti mandala ning Pajajaran kangwus pralaya, ya ta sirnz, ing bhumi Parahyangan. Ikang kedatwan ratu Sumedang haneng Kutamaya ri Sumedangmandala” (Geusan Ulun memerintah wilayah Pajajaran yang telah runtuh, yaitu sirna, di bumi Parahiyangan.

Mahkota Binokasih
Mahkota Binokasih, Mahkota Kerajaan Pajajaran yang diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun disimpan di Museum Prabu Geusan Ulun
Dengan dinobatkan Pangeran Angkawijaya sebagai raja Sumedanglarang  berarti kedudukan dan kekuasaan Prabu Geusan Ulun Raja Sumedang Larang menjadi lebih besar dengan menerima hibah sebagian besar wilayah bekas Kerajaan Pakuan Pajajaran (seluruh Tatar Sunda kecuali Banten dan Cirebon), sementara Raja Pakuan Pajajaran terakhir (Prabu Nusiya Mulya/ Raga Mulya/ Suryakancana) menurut kabar menyingkir ke Gunung Salak sambil menghimpun kekuatan untuk serangan balasan, namun tidak pernah terlaksana karena dia keburu meninggal dunia. Walaupun telah menerima wilayah kekuasaan dari bekas Kerajaan Pakuan Pajajaran, sulit bagi dia untuk mengembangkan kekuasaannya karena posisi Kerajaan Sumedang Larang terjepit diantara dua kekuatan besar yaitu Kerajaan/ Kesultanan Banten dan Kerajaan/ Kesultanan Cirebon yang sama-sama mengincar wilayah bekas Pakuan Pajajaran.


Hilangnya wilayah Sindang Kasih

Pada masa pemerintahannya terkenal dengan peristiwa yang menggemparkan sekaligus memalukan yaitu, dibawa kaburnya Ratu Harisbaya salah satu istri Raja Cirebon Pangeran Girilaya Panembahan Ratu pada saat Prabu Geusan Ulun berkunjung ke Keraton Cirebon sekembalinya dari Kerajaan Demak dalam rangka memperdalam agama Islam, terjadi penyerbuan Cirebon yang mengakibatkan dia terpaksa menyingkir ke Dayeuh Luhur bersama Ratu Harisbaya serta sebagian kecil rakyat dan pengikutnya, meski pada akhirnya tercapai perdamaian dengan Cirebon namun Sumedang Larang mengalami kerugian besar yaitu hilangnya wilayah Sindang Kasih yang sekarang dikenal dengan nama Kabupaten Majalengka diserahkan kepada Panembahan Ratu Cirebon sebagai pengganti talak tiga atas nama Ratu Harisbaya, sejak itulah pusat pemerintahan Sumedang Larang pindah dari Kutamaya ke Dayeuh Luhur dan akhirnya dia wafat dan dimakamkan disana bersama Ratu Harisbaya.

Ratu Harisbaya diperistri oleh Pangeran Geusan Ulun sebagai istri ke 2 dan memiliki 3 orang anak salah satunya bernama Suriadiwangsa yang kelak bergelar Pangeran Kusumadinata IV, sementara dari istri pertama yang bernama Nyai Mas Cukang Gedeng Waru memiliki 12 anak salah satunya bernama Rangga Gede dan diberi gelar Pangeran Kusumadinata III, untuk tidak menimbulkan pertengkaran di kemudian hari maka pada tahun 1601 wilayah Sumedang Larang dibagi dua yang masing-masing dipimpin oleh ke dua putranya diatas.


Dalam masa Kesultanan Mataram

Dalam masa tersebut Kesultanan Mataram-Jawa Tengah dibawah pimpinan Sultan Agung mengalami masa keemasan dan merupakan kesultanan yang sangat kuat, dilatar belakangi kekhawatiran terhadap ekspansi kesultanan Banten ke arah Timur setelah menaklukkan Pakuan Pajajaran, mendorong Suriadiwangsa berangkat ke Mataram meminta perlindungan. Setibanya di Mataram beilau menyampaikan maksudnya kepada Sultan Agung, dan mendapat sambutan hangat serta mendapat gelar Rangga Gempol Kusumadinata dari Sultan Agung yang dalam urutan silsilah Sumedang disebut Rangga Gempol I, penghargaan lain dari Sultan Agung menjuluki wialayah kekuasaan Sumedang dengan nama PRAYANGAN artinya daerah yang berasal dari pemberian dibarengi oleh hati yang ikhlas dan tulus, di kemudian hari dengan lafal setempat nama prayangan berubah menjadi PRIANGAN, berbeda dengan kata PARAHYANGAN (PARA-HYANG-AN ) yang artinya identik tempat tinggal para dewa atau orang suci (Hyang).


Keluaga
  1. Prabu Geusan Ulun putra Kusumahdinata I (Pangeran Santri) dan Ratu Pucuk Umun .

Istri-istri
  1. NM Gedeng Waru ;
  2. Ratu Harisbaya .
  3. NM Pasaeran .

Putra-putra
dari istri NM Cukang Gedeng Waru, dikarunia 12 anak :
  1. Pangeran. Rangga Gede / Kusumahdinata III
  2. Rd. Ar. Wiraraja I
  3. Ki Kadu Rangga Gede
  4. Ki Rangga Patra Kelana
  5. Ki Ar. Rangga Pati
  6. Ki Ngabehi Watang
  7. Ni.Ms. Demang. Cipaku
  8. Ni.Ms. Ngb. Martayuda
  9. Ni.Ms. Rg. Wiratama
  10. Rd. Rg. Nitinagara
  11. Ni. Ms. Rg. Pamadi
  12. Ni. Ms. Dipati Ukur
dari istri Ratu Harisbaya, dikarunia 2 anak :
  1. Pangeran Rangga Gempol I
  2. Pangeran Tegal Kalong
dari istri Nyi Mas Pasarean, dikarunia seorang :
  1. Ki. Demang Cipaku
Bersaudara
  1. Demang Rangga Dadji;
  2. Demang Watang;
  3. Santowaan Wirakusumah (Pangeran Santowaan Wirakusumah) yang keturunannya berada di Pagaden dan Pamanukan, Subang;
  4. Santoan Cikeruh; dan
  5. Santoan Awi Luar.

Sumber: