Biodata KH Zaitun Rasmin - Ketua Umum Wahdah Islamiyah

Ustadz DR. (HC) KH Muhammad Zaitun Rasmin, Lc. MA-hafizhahullah atau lebih dikenal sebagai Ustadz Zaitun adalah seorang ulama, Ketua Ulama dan Da'i Asia Tenggara, Pimpinan Umum Wahdah Islamiyah, Pengurus MUI Pusat, dan Inisiator MIUMI (Majelis Intelektual & Ulama Muda Indonesia).

Beliau sering hadir dalam acara Damai Indonesiaku dan ILC di TV One. Ia juga sempat mengisi program Cahaya Hati ANTV. Sebagai Wakil Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri MUI, ia seringkali melakukan wawancara eksklusif mewakili MUI Pusat. Posisi lain yang disandangnya adalah Direktur Utama Ummat TV.


Kisah Hidup KH Zaitun Rasmin

Zaitun Rasmin
Zaitun Rasmin pernah mengenyam pendidikan di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, Sulawesi Selatan, Fakultas Pertanian. Namun saat itu ia memutuskan berhenti kuliah dan fokus menempuh jalan dakwah.

Penyebab beliau berhenti kuliah karena saat itu terjadi masalah di kampus. Saat beliau masih kuliah semester 4, mahasiswa Islam di Universitas Hasanuddin tidak mampu mengundang Da'i ke kampus mereka untuk suatu pengajian, Da'i yang dimaksud adalah yang akrab dengan komunitas kampus. Organisasi massa Islam yang ada di sana kurang dekat dengan mahasiswa. Sementara komunitas kampus umum seperti Unhas tak memiliki dai yang menguasai ilmu-ilmu islam secara memadai.

Saat itulah beliau dan teman-temannya gencar mendalami ilmu agama Islam. Dan sejak itu, Zaitun muda mulai menghabiskan waktunya dengan belajar bahasa bahasa Arab secara otodidak. Zaitun tetap menjalankan aktivitas dakwahnya. Malah, untuk memuluskan jalan dakwah ini, ia mendirikan sebuah Yayasan bernama Fathul Mu'in.

Untuk memperdalam ilmu Bahasa Arab, Zaitun pergi ke Jakarta untuk menuntut ilmu di LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab, sekarang berubah nama LIPIA). Kurang lebih 1,5 tahun menuntut ilmu di LPBA, Zaitun mendapat anugerah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT) berupa beasiswa belajar ke Madinah. Selama 4 tahun ia mendalami ilmu syariah di Universitas Islam Madinah. Selesai kuliah tahun 1995. Zaitun kembali ke Makassar untuk melanjutkan dakwah.


Mendirikan Wahdah Islamiyah

Pada tanggal 19 Februari 1998, Yayasan yang dulu bernama Fathul Mu'in yang ia dirikan berubah namanya menjadi Wahdah Islamiyah.

Zaitun Rasmin memiliki  harapan dan cita-cita besar, beliau ingin melihat persatuan umat Islam di atas kebenaran. Harapan dan cita-cita tersebut ia mulai bangun di Indonesia bagian Timur.

Wujud dari itu semua, bersama dengan kawan-kawannya, ia mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Bahasa Arab (STIBA) pada tahun 1998. Sekolah mereka beri nama Ma'had 'Aly Al Wahdah, berada di bawah naungan Yayasan Pesantren Wahdah Islamiyah (YPWI).

Selain sekolah tinggi, mereka juga mendirikan sejumlah TKA dan TPA, beberapa amal usaha seperti BMT, toko buku, dan perkebunan.

Sejak tahun 2002, Wahdah Islamiyah telah berubah menjadi organisasi masyarakat (ormas) Islam. Ormas ini kian lama kian tumbuh menjadi besar di Sulawesi. Hingga kini mereka telah memiliki 35 cabang dan 43 derah binaan. Beberapa diantaranya bahkan berada di luar Sulawesi.


Gelar Doktor Honoris Causa

Ustad Muhammad Zaitun Rasmin memperoleh gelar Doktor Honoris Causa. Gelar DR (Hc) tersebut dianugerahkan oleh International Electronic University Mesir. Gelar Doktor diperoleh Ustad Zaitun atas peran beliau yang menonjol dalam bidang Studi Islam, Politik Islam, dan Pendidikan.

Riwayat Organisasi
  • Ketua Persatuan Pemuda Muslim se-Sulawesi Selatan
  • Ketua Umum Wahdah Islamiyah Indonesia
  • Wakil Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri MUI Pusat sampai 2015.
  • Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat
  • Wakil Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI)
  • Anggota Ikatan Ulama Muslimin Dunia
  • Ketua Ikatan Ulama dan Da'i se-Asia Tenggara

Biodata:
  • Lahir:  Gorontalo, 24 Desember 1966
  • Akun Twitter: @ZaitunRasmin


Sumber: 
  • Wikipedia
  • www.hidayatullah.com
  • www.wahdah.or.id
Incoming search: pendidikan zaitun rasmin, maryam zaitun rasmin, wahdah islamiyah, ketua wahdah islamiyah makassar, ajaran wahdah islamiyah, pendiri wahdah islamiyah, ketua mui, anggota mui 2018