Home » , » Oliver Cromwell - Tokoh Militer dan Negarawan Inggris

Oliver Cromwell - Tokoh Militer dan Negarawan Inggris

Oliver Cromwell
Oliver Cromwell
1599-1658
Lord Protector di Inggris, Skotlandia dan Irlandia 
25 Desember 1653 - 3 September 1658 

Anggota Parlemen untuk Huntingdon 1628-1629 Anggota Parlemen untuk Cambridge 1640-1649 

Data pribadi 

Lahir: 25 April 1599 Huntingdon, Huntingdonshire, Inggris 
Meninggal: 3 September 1658 (umur 59) Whitehall, London, Inggris 
Tempat peristirahatan: Tyburn, London 
Kebangsaan: Inggris 
Pasangan: Elizabeth Bourchier 

Hubungan:
Robert Cromwell (ayah) Elizabeth Steward (ibu) 

Anak-anak:
Robert Cromwell 
Oliver Cromwell 
Bridget Cromwell 
Richard Cromwell, Lord Protector 
Henry Cromwell Lord Deputi Irlandia 
Elizabeth Cromwell 
James Cromwell 
Mary Cromwell 
Frances Cromwell 

Alma mater: 
Sidney Suss3x College, Cambridge 

Pendudukan: 
 Farmer, Parlemen, Komandan Militer 

Agama: 
Puritan (Independent)
Oliver Cromwell adalah tokoh militer dan negarawan Inggris; kepala negara bergelar "Lord Protector" di Inggris, Skotlandia dan Irlandia dari 3 Desember 1653 hingga kematiannya.

Oliver Cromwell pemimpin militer yang brilian dan memikat yang mengepalai kekuatan parlementer dan mencapai kemenangan dalam perang saudara Inggris, ia adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap terbentuknya demokrasi parlementer sebagai bentuk pemerintahan Inggris.

Cromwell lahir di Huntingdon, barat laut Cambridge, 25 April 1599, Inggris. Selaku orang muda dia hidup di Inggris yang tercabik-cabik oleh pertentangan agama dan dipimpin oleh seorang raja yang percaya dan ingin mempraktekkan monarki absolut. Cromwell sendiri seorang petani dan tokoh pedesaan serta seorang puritan yang taat. Di tahun 1628 dia terpilih jadi anggota parlemen. Tetapi, jabatan ini sangat singkat dipegangnya karena pada tahun berikutnya Raja Charles I memutuskan membubarkan parlemen dan memerintah negeri sendirian. Tak sampai tahun 1640 tatkala dia perlu uang untuk melancarkan perang terhadap Skotlandia, raja memanggil lagi parlemen baru. Cromwell juga jadi anggota dalam parlemen baru ini, meminta jaminan kepastian dan perlindungan terhadap tidak kembalinya kekuasaan raja yang semau-maunya. Tetapi, Charles I keberatan berada di bawah kekuasaan parlemen. Apa daya? Satu-satunya jalan adalah perang yang pecah tahun 1646, peperangan antara kekuatan antek raja dan yang pro parlemen. Cromwell berpihak pada yang pro parlemen.

Pendudukan atas Irlandia dan Skotlandia oleh pasukan Cromwell.

Saat kembali ke kotanya Huntingdon, Cromwell membangun pasukan berkuda untuk menggempur raja. Selama perang yang berlangsung empat tahun, kemampuan militernya mendapat sorotan umum. Cromwell memegang peranan sebagai penentu, baik di pertempuran Marston Moor (2 Juli 1644) yang amat kritis yang merupakan titik balik peperangan, maupun dalam pertempuran yang menentukan di Naseby (14 Juni 1645). Di tahun 1646 perang berakhir dan Charles I dipenjara. Cromwell diakui sebagai jendral paling sukses dari golongan pro parlemen.

Meski demikian, perdamaian tidak juga datang karena golongan pro parlemen terpecah-pecah dalam fraksi-fraksi yang secara mendasar saling berbeda tujuan. Raja mengetahui perpecahan ini, karena itu dia menghindar dari penyelesaian damai. Dalam tempo setahun, perang saudara kedua pecah lagi disertai lolosnya Charles I dari penjara dan mencoba menghimpun pasukan untuk mendukungnya. Hasil dari konflik baru ini adalah kekalahan pasukan Raja Charles I oleh gempuran Cromwell, mengikis orang-orang yang berpendirian moderat di parlemen dan menghukum mati Raja Charles I  pada bulan Januari tahun 1649.

Akibatnya Inggris kini menjadi republik (Conmmonwealth), diperintah untuk sementara oleh Dewan Negara, yang diketuai Cromwell. Tetapi, golongan pro kerajaan segera dapat menguasai Irlandia dan Skotlandia serta memberi dukungan kepada putera mendiang Raja Charles II di masa depan.

Hasilnya adalah pendudukan yang berhasil atas Irlandia dan Skotlandia oleh pasukan Cromwell. Rangkaian pertempuran yang panjang berakhir tahun 1625 dengan kekalahan mutlak para pendukung raja.

Setelah perang

Perang sudah selesai, kini tiba waktunya untuk mendirikan suatu pemerintahan baru. Tetapi, masih ada sisa masalah mengenai bentuk pemerintahan yang konstitusional yang harus dijelmakan. Masalah ini tak pernah terpecahkan selama Cromwell masih hidup. Jendral-jendral puritan telah mampu memimpin pertempuran yang membawa kemenangan bagi mereka yang menentang monarki absolut. Tetapi, baik kekuatan maupun prestisenya tidak cukup untuk menyelesaikan konflik sosial diantara pendukungnya dan tak berhasil mengajak mereka menyepakati konstitusi baru, karena konflik ini saling terkait dengan konflik agama yang memecah penganut Protestan dan golongan lain, juga dengan kaum Katolik Romawi.

Ketika Cromwell berada diatas tampuk kekuasaan, sisa parlemen tahun 1640 sedikit sekali jumlahnya, tidak representatif, minoritas yang ekstrim yang disebut "Rump." Langkah pertama yang ditempuh Cromwell ialah melakukan penjajagan untuk suatu pemilihan umum baru. Ketika usaha penjajagan itu gagal berantakan, dia membubarkan "Rump" dengan kekerasan (ini terjadi bulan April tahun 1653). Sejak itu hingga wafatnya Cromwell tahun 1658, ada tiga parlemen yang berbeda-beda terbentuk dan dibubarkan. Dua macam konstitusi disepakati, tetapi tak satu pun berfungsi sebagaimana mestinya. Sepanjang periode ini, Cromwell memerintah atas dukungan Angkatan Bersenjata. Akibatnya, dia menjadi diktator militer. Tetapi, percobaannya yang berulang kali melaksanakan praktek-praktek demokratis dan juga penolakannya atas tawaran tahta yang diusulkan buatnya, jelas menunjukkan bahwa kediktatoran bukanlah sesuatu yang dicari dan dikehendakinya. Ini dipaksakan kepadanya oleh ketidakmampuan para pendukungnya dalam hal mendirikan sebuah pemerintahan yang berjalan sebagaimana mestinya.

Peran Lord Protector (Sang Pelindung)

Dari tahun 1653 sampai 1658, Cromwell, dengan gelar Lord Protector (Sang Pelindung), jadi penguasa Inggris, Skotlandia dan Irlandia. Selama lima tahun itu, Cromwell membuat Inggris punya pemerintahan yang secara umum baik dan administrasi berjalan sebagaimana mestinya. Dia memperbaiki berbagai hukum yang kurang baik dan mendukung memajukan sektor pendidikan. Cromwell seorang yang punya toleransi terhadap agama, dia ijinkan orang-orang Yahudi kembali menetap di Inggris dan mengamalkan ibadat menurut kepercayaannya. (Mereka terusir dari Inggris tiga abad lamanya oleh Raja Edward I). Cromwell juga menjalankan politik luar negeri yang berhasil. Dia meninggal di London tahun 1658 akibat serangan malaria.

Pengganti

Anak sulung Cromwell, Richard Cromwell, menggantikan sang bapak tetapi cuma sebentar memerintah. Tahun 1660 Charles II dinaikkan kembali ke atas tahta. Sisa-sisa pengikut Cromwell dibabat habis dan dihukum digantung. Tetapi, usaha penumpasan macam apa pun yang dilakukan, upaya balas dendam yang bagaimanapun tidaklah mungkin bisa menutupi fakta bahwa perjuangan mati-matian demi adanya suatu monarki absolut sudah musnah. Charles II menyadari hal ini, karena itu dia tidak mencoba melawan keunggulan parlemen. Tatkala penggantinya, James II, mencoba mengembalikan sistem monarki absolut, dia segera digulingkan lewat revolusi tak berdarah tahun 1688. Hasil yang tampak adalah persis seperti apa yang diinginkan oleh Cromwell di tahun 1640, yaitu suatu monarki konstitusional dimana raja jelas berada di bawah parlemen dan menghormati lembaga itu, serta negara menganut politik bertoleransi terhadap semua agama.

Kematian dan eksekusi

Cromwell diperkirakan telah menderita malaria dan dari " batu ", sebuah istilah umum untuk kemih / infeksi ginjal. Pada 1658 ia terkena demam malaria, diikuti dengan gejala kemih atau ginjal. penurunan kesehatannya mungkin juga disebabkan oleh kematian putrinya, Elizabeth Claypole pada bulan Agustus. Cromwell meninggal pada usia 59 di Whitehall, Jumat 3 September 1658. Ia dimakamkan dengan upacara besar di Westminster Abbey, putrinya Elizabeth juga dimakamkan di sana.

Pada tanggal 30 Januari 1661, (ulang tahun ke-12 dari eksekusi Charles I), tubuh Cromwell digali dari Westminster Abbey, dan menjadi sasaran ritual dari eksekusi anumerta, seperti sisa-sisa Robert Blake, John Bradshaw dan Henry Ireton. (Tubuh putri Cromwell diizinkan untuk tetap dimakamkan di biara).