Home » » Sumayyah binti Khabath - Wanita Pertama yang Syahid dalam Sejarah Islam

Sumayyah binti Khabath - Wanita Pertama yang Syahid dalam Sejarah Islam

Artikel "Sumayyah binti Khabath - Wanita Pertama yang  Syahid dalam Sejarah Islam" adalah bagian dari seri "Kisah Shahabiyah - Sahabat Nabi perempuan"
Sumayyah binti Khabath adalah budak / hamba Abu Huzaifah bin Mughirah. Suaminya bernama Yasir, dengannya dikaruniai seorang putra bernama ‘Ammar bin Yasir. Sumayyah dan Yasir masuk Islam setelah mendengar lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dari putranya, ‘Ammar.

Sumayyah  binti Khabath ra. adalah orang yang pertama yang menyatakan keislamannya secara terbuka dan menerima penyiksaan dengan tabah demi tetap bertahan di jalan Allah ‘Azza wa Jalla. Dia berada di garis depan wanita-wanita mukmin yang tulus dan segera menerima Islam, sehingga meraih kehormatan sebagai orang-orang pertama yang masuk Islam dan mendapat kabar gembira yakni masuk surga. Sumayyah adalah wanita pertama yang syahid dalam sejarah Islam.


Asal-usul keluarga  Sumayyah

Diceritakan Yasir, Al-Harits dan Malik yang merupakan tiga bersaudara datang ke kota Makkah untuk mencari saudara mereka yang menghilang dalam beberapa tahun terakhir. Sejak itu, mereka terus mencari ke berbagai pelosok negeri hingga sampai di kota Makkah. Tapi, di kota ini pun mereka tidak menemukannya. Karena itu, Al-Harits dan Malik memutuskan pulangg ke Yaman, sedangkan Yasir tetap tinggal di Makkah.

Ada tradisi yang berlaku di masyarakat Arab, apabila orang asing ingin tinggal di suatu negeri, maka ia harus mengikat perjanjian dengan salah seorang tokoh terkenal di kota tersebut untuk melindungi dirinya dari segala bentuk gangguan masyarakat dan dapat hidup dengan tenang dan nyaman di kota tersebut.

Yasir mengikat perjanjian dengan Abu Hudzaifah bil Al-Mughirah Al-Makhzumi. Tokoh terkemuka Makkah ini sangat menyukai Yasir karena sifat-sifatnya yang baik dan tindak-tanduknya yang menyenangkan, serta latar belakang keluarganya yang terhormat. Abu Hudzaifah ingin memperkuat hubungannya dengan Yasir, sehingga dia menikahkan seorang budak perempuannya yang bernama Sumayyah binti Khabath ra.

Saat itu, Sumayyah sama sekali bukan orang terkenal di Makkah karena kegiatan-kegiatan yang digelutinya tidak lebih dari melayani tuannya, Abu Hudzaifah bin Al-Mughirah.

Dari pernikahannya dengan Sumayyah binti Khabath, Yasir dikaruniai seorang putra yang penuh berkah bernama ‘Ammar bin Yasir. Semoga Allah meridhai buah hati dan penyejuk mata mereka. Kebahagiaan mereka semakin sempurna, ketika Abu Hudzaifah memutuskan untuk membebaskan ‘Ammar dari statusnya sebagai budak. Tidak lama kemudian, Abu Hudzaifah meninggal dunia.


Masuk islamnya  Sumayyah binti Khabath

Suatu saat ‘Ammar pulang ke rumahnya dengan langkah yang cepat untuk merangkul tangan kedua orang tuanya. Lalu ‘Ammar ra. mengucapkan salam kepada kedua orang tuanya dan membacakan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak perlu menunggu lama, hati-hati yang bersih dan suci itu langsung terbuka dan sangat senang mendengar firman Allah swt. Yasir dan Sumayyah radhiyallahu’anhum merasakan keberadaan cahaya yang menyinari seluruh penjuru jagat raya, sehingga saat itu juga keduanya mengucapkan bersama-sama, “Aku bersaksi tidak ada tuhan yang pantas disembah kecuali Allah dan aku besaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah”.


Mendapat siksaan dari Bani Makhzum

Tidak lama kemudian, berita keislaman keluarga Yasir tersebar dan sampai di telingan bani Makhzum. Mereka marah besar dengan kejadian itu sehingga langsung mendatangi keluarga Yasir dan menyiksa mereka dengan begitu keras.

Ketika terik matahari memuncak, mereka menyeret keluarga Yasir ke tengah lapang yang panas dan menyuruh mereka memakai baju besi. Mereka tidak diberi minum dan tetap dibiarkan terpanggang oleh sinar matahari. Mereka menerima penyiksaan yang bermacam-macam dari Bani Makhzum. Kala mereka benar-benar telah kepayahan, mereka dibawa pulang ke rumah kemudian disiksa kembali pada hari berikutnya.


Wafatnya  Sumayyah binti Khabath

Abu jahal merupakan orang yang berperan besar dalam menggalang orang-orang Quraisy untuk menyiksa kaum muslimin yang lemah itu. Jika dia mendengar seseorang yang cukup terpandang dan kuat telah masuk Islam, maka dia akan mengecam dan menghinanya. Dia berkata, “Engkau telah meninggalkan agama orang tuamu sendiri padahal itu lebih baik darimu. Kami akan menghinamu, memandang sebelah mata pendapatmu, dan menjatuhkan kehormatanmu”. Namun.

Jika yang masuk islam tersebut seorang pedagang, maka Abu Jahal akan berkata padanya, “Kami akan mempersempit peluang dagangmu dan menghancurkan kejayaanmu”. Sedangkan jika yang masuk Islam adalah orang lemah atau miskin, maka dia langsung memukulinya dan menggalang orang-orang Quraisy untuk memusuhinya. Semoga Allah melaknat dan merendahkannya.

Sementara Sumayyah ra., sahabat Rasulullah saw. yang agung, tetap tegar dalam menerima siksaan yang tidak pernah berhenti. Ia sabar terhadap intimidasi yang dilakukan oleh Abu Jahal layaknya seorang pejuang yang gagah berani dan menolak mengubah keyakinan barunya. Tekad Sumayyah tidak pernah surut dan iman yang telah mengangkatnya kepada derajat wanita-wanita agung dan sabar tidak pernah melemah.

Penderitaan mulai berubah menjadi anugerah Allah, setelah Rasulullah saw. menyampaikan kabar gembira bahwa Sumayyah dan keluarganya akan meraih kenikmatan surga. Saat itulah, Ummu ‘Ammar, Sumayyah ra., berdiri tegak untuk menorehkan catatan paling bersejarah dengan darahnya, yakni menjadi orang pertama yang meraih syahaadah (mati syahid) dalam sejarah Islam. peristiwa ini terjadi ketika Abu Jahal – semoga Allah membalas kejahatannya dengan balasan yang setimpal – menyiksanya lalu menghujamkan tombak pendek pada tempat kehormatannya hingga meregang nyawa.

Peristiwa pembunuhan Sumayyah ra. ini terjadi pada tahun 7 Hijriah. Sumayyah merupakan contoh Muslimah yang bisa dijadikan teladan dalam hal kesabaran, pengorbanan dan ketabahan. Semoga Allah meridhai Sumayyah ra. dan menjadikannya ridha, serta menjadikan surga Firdaus sebagai tempat persinggahan terakhirnya.

Sumber : 
35 Sirah Shahabiyah, Mahmud Al-Mishri (terjemahan Asep Sobari, Lc.)