Biografi Al Amiri - Filsuf Yang Mempunyai Kecenderungan Terhadap Sufisme

Masjid Jameh of Bastak
Abu al hasan Muhammad al Amiri atau Abu al hasan ibn Abi Dzaar dan dikenal dengan nama Al-Amiri adalah teolog Muslim dan filsuf asal Persia. Ia seorang filsuf yang mempunyai kecenderungan terhadap sufisme. Bersahabat dengan kaum sufi dan menulis beberapa persoalan yang menjadi subjek pembahasan kalangan sufi.


Biografi 

Al Amiri lahir di Nishapur, Khorasan, di zaman Iran modern, awal abad 4 H / 10 M. Ia belajar kepada Abu Zaid al balkhi. Pada usia yang relatif muda, 2 dekade setelah kematian gurunya, ia pergi kebarat, melakukan pengembaraan ke wilayah-wilayah yang jauh, untuk mencari pengetahuan dan pencerahan serta mencari perlindungan (patronase) dari penguasa atau wazir (perdana mentri).

Ia menghabiskan 5 tahun di rayy, di istana wazir Ibn al Amid dan penggantinya, Abu al fath ibn al Amid (putra Ibn al Amid), wazir dinati buwaihi yang cinta ilmu, pelindung para filosof pada tahun 360 H/ 970 M,. Di istana Ibn Al amid dan kemudian putranya, ia bertemu banyak para ilmuwan ternama, seperti seperti: Ibn Miskawaih, yang menganggap Al Amiri sebagai filsuf yang sempurna.

Dari rayy ia mengunjungi baghdad 2 kali. Disana ia menjalin hubungan dengan filsuf-filsuf setempat, seperti Yahya bin Adi, filsuf kristen.

Disamping sebagai asketis, ia terkenal juga sebagai ahli debat (diskusi). Di baghdad ia pernah terlibat beberapa diskusi / debat dengan intelektual-intelektual ternama waktu itu. Pada tahun 360 H/ 970 M ia menghadiri majelis yang membahas persoalan hukum di Baghdad. Dan pada tahun 364 H/ 974 M, ia terlibat perdebatan dengan ahli tata bahasa ternama, Abu Sa’id al Syirafi, yang diadakan oleh wazir Abu al Fath al Amid.

Setelah beberapa tahun di Ray, pada tahun 370 H/ ia kemudian kembali ke tanah kelahirannya, Nisabur, tempat ia berjumpa dengan sekelompok sufi pengembara.

Dan pada tahun-tahun terakhirnya, Al Amiri menikmati kemurahan hati figur-figur teras istana dinasti samaniyah di Khurasan dan Transoxania dan tinggal di ibukota dinasti itu, Bukhara, serta kota utamanya, Nisdhapur, tempat ia meninggal.

Produksi kesusastraannya menjelang akhir kariernya, dihasilkan di bawah perlindungan amir dinasti Samaniyah tersebut.

Karya tulisnya sekitar 25 judul, diantaranya masih ada dan dipublikasikan. Al Amiri meninggal di Nisabur tahun 381 H.


Karya
  • At Taqrir li aujuh al taqdir. Kitab ini ia selesaikan tahun 375 H / 985 M, yang dipersembahkan kepada Abu al Husain al ‘Utbi, wazir Nuh ibn Mansyur.
  • Al Amad ‘ala al Abad. Kitab ini ia selesaikan di Bukhara pada tahun 375 H/ 985 M.
  • Al ‘Ilam bi Manaqib al Islam
  • Inqadz al basyar min Al jabr wa al Qodar (Menyelamatkan umat manusia dari nasib dan taqdir)
  • Al sa’adah wa al Is’ad, suatu doksografi penting mengenai pemikiran etika dfan politik.
  • Al Nask al Aqli (Intelectual Ascetion)
  • Al Qaul fi Ibsar wa al Mubsar, dalam karya ini ia meninjau ulang berbagai teori yunani tentang oftik dan fisiologi (penglihatan)
  • Fushul fi al ma’alim al ilahiyah