Biografi singkat 6 Pahlawan Nasional Baru 2019

Jumat 8 Nopember 2019, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan kepada enam tokoh. Upacara penganugerahan gelar pahlawan itu digelar di Istana Negara, Jakarta. Keenam tokoh dipilih karena dianggap telah berjasa di bidang mereka masing-masing.

Penganugerahan gelar pahlawan itu tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 120 TK Tahun 2019 tanggal 7 November 2019 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional. Mereka antara lain, almarhumah Ruhana Kuddus, almarhum Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi, almarhum Prof M. Sardjito, almarhum Abdul Kahar Muzakir, almarhum Alexander Andries (AA) Maramis, dan almarhum KH Masjkur.
 6 Pahlawan Nasional Baru 2019

Berikut Biografi dan profil singkat 6 Pahlawan Nasional Baru 2019:

1. Ruhana Kuddus 

Ruhana KuddusRuhana Kuddus merupakan tokoh dari Sumatera Barat yang menjadi jurnalis perempuan pertama Indonesia. Dia lahir di Sumatera Barat pada 20 Desember 1884 di Kota Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Roehana adalah kakak tiri dari Sutan Sjahrir, bibi penyair Chairil Anwar, dan sepupu H Agus Salim.

Ia memulai karir jurnalistiknya saat bekerja di surat kabar Poetri Hindia pada tahun 1908 di Batavia.  Pada tahun 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang. Ia juga aktif menulis di surat kabar perempuan, Poetri Hindia. Ketika medianya dibredel pemerintah Belanda, Ruhana berinisiatif mendirikan surat kabar, bernama Sunting Melayu, yang tercatat sebagai salah satu surat kabar perempuan pertama di Indonesia. Ruhana Kuddus meninggal akibat sakit di usianya yang ke-88. Baca selengkapnya : "Profil Ruhana Kuddus - Jurnalis Perempuan Pertama Indonesia"


2. Sultan Himayatuddin 

Sultan Himayatuddin
La Karambau yang bergelar Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo adalah seorang Sultan Buton ke-20 pada 1752–1755 dan ke-23 pada 1760–1763. Ayahnya adalah Sultan La Umati (Sultan Buton ke-13). Ia giat bergerilya melawan menentang pemerintahan Hindia Belanda dalam Perang Buton.

Himayatuddin menghabiskan waktunya untuk menentang dan melawan kekuasaan pemerintah Belanda. Kesuksesannya mengusir kaum penjajah di tanah Buton, pihak Kesultanan Buton menobatkan dirinya sebagai "Oputa Yi Koo". Dalam bahasa masyarakat setempat, gelar tersebut bermakna raja atau penguasa yang bergerliya melawan penjajah di dalam hutan.

Tidak lama setelah perang Buton, Sultan Himayatuddin menetap di Siontapina hingga meninggal pada 1776 dan dimakamkan di puncak Gunung Siontapina. Baca Selengkapnya : "Profil Sultan Himayatuddin - Sultan Buton, Pahlawan Nasional"


3. Sardjito

M Sardjito
Prof M. Sardjito adalah dokter yang menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Pernah aktif dalam organisasi Budi Utomo cabang Jakarta. Dia juga termasuk peletak dasar Tri Dharma Perguruan Tinggi.

M. Sardjito lahiran 13 Agustus 1889 di Magetan, Jawa Timur. Ia lulus Sekolah Dasar Purwodadi di Desa Purwodadi, Kecamatan Barat, Kabupaten Magetan pada tahun 1922.

Pada masa perang kemerdekaan, ia ikut serta dalam proses pemindahan Institut Pasteur di Bandung ke Klaten. Selanjutnya ia menjadi Presiden Universiteit (sekarang disebut Rektor) Universitas Gadjah Mada yang pertama dari awal berdirinya UGM tahun 1949 sampai 1961.

Sardjito meninggal dunia 5 Mei 1970 pada umur 80 tahun, namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit daerah di Yogjakarta yaitu Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito. Baca selengkapnya: "Profil Prof. Dr. M. Sardjito - Rektor Universitas Gadjah Mada ke-1"


4. Abdul Kahar Muzakir

Abdul Kahar Muzakir
Prof. KH. Abdoel Kahar Moezakir atau ejaan baru Abdul Kahar Muzakir, ada pula yang menuliskannya dengan nama Abdul Qahhar Mudzakkar adalah Rektor Magnificus yang dipilih Universitas Islam Indonesia untuk pertama kali dengan nama STI selama 2 periode 1945 - 1948 dan 1948 - 1960. Ia adalah anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia). Ia merupakan salah satu Tokoh Pendidikan Indonesia.. Kahar juga merupakan rektor Universitas Islam Indonesia (UII) pertama. Baca Selengkapnya: "Biografi Abdoel Kahar Moezakir - Tokoh Pendidikan Indonbesia"


5. AA Maramis 

AA Maramis
Mr. Alexander Andries Maramis (lahir di Manado, Sulawesi Utara, 20 Juni 1897 – meninggal di Jakarta, 31 Juli 1977 pada umur 80 tahun) adalah tokoh dari Sulawesi Utara, pejuang kemerdekaan Indonesia dan pahlawan nasional. Dia pernah menjadi anggota BPUPKI dan KNIP. Ia juga pernah menjadi Menteri Keuangan Indonesia ke-2 dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama. Keponakan Maria Walanda Maramis ini menyelesaikan pendidikannya dalam bidang hukum pada tahun 1924 di Belanda. AA Maramis pernah juga menjabat Menteri Luar Negeri Indonesia 19 Desember 1948 – 13 Juli 1949. Partai yang pernah ia masuki adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). AA Maramis menikah dengan Elizabeth Marie Diena Veldhoedt.

Pernah 4 kali menjadi duta besar :
  1. Duta Besar Indonesia untuk Filipina 1, Masa jabatan 25 Januari 1950 – 8 Mei 1950.
  2. Duta Besar Indonesia untuk Jerman Barat 1, Masa jabatan 10 April 1953 – 27 Juni 1956
  3. Duta Besar Indonesia untuk Uni Soviet, Masa jabatan 15 Oktober 1956 – November 1959
  4. Duta Besar Indonesia untuk Finlandia, Masa jabatan 18 Agustus 1958 – 1960


6. KH Masykur

KH. Masykur
K.H. Masjkur (EYD: Masykur, lahir di Malang, Jawa Timur, 30 Desember 1904 – meninggal 19 Desember 1994 pada umur 89 tahun) adalah Menteri Agama Indonesia ke-6 pada tahun 1947-1949 dan tahun 1953-1955. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI tahun 1956-1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1968.

Masykur mendirikan pesantren Misbahul Wathom pada 1923 serta ikut mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926.

Keterlibatannya dalam perjuangan kemerdekaan menonjol di zaman pendudukan Jepang, sebagai anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Masjkur juga tercatat selaku pendiri Pembela Tanah Air (Peta)—yang kemudian menjadi unsur laskar rakyat dan TNI—di seluruh Jawa. Ketika pertempuran 10 November 1945, namanya muncul sebagai pemimpin Barisan Sabilillah. Ia tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang berjuang lewat laskar santri Hizbullah. Kiai Masykur memimpin laskar Kiai Sabilillah. Baca Selengkapnya : "Profil KH Masykur - Pahlawan Indonesia, Menteri Agama ke-6"