Home » » Kisah Nabi Shaleh as - Rasul yang Diutus kepada Kaum Tsamūd

Kisah Nabi Shaleh as - Rasul yang Diutus kepada Kaum Tsamūd

Artikel "Kisah Nabi Shaleh as - Rasul yang Diutus kepada Kaum Tsamūd" adalah bagian dari seri "Kisah 25 Nabi dan Rasul Islam"


kaligrafi arab yang bermakna: shalih, soleh, saleh
Shaleh (Bahasa Arab صالح) (sekitar 2150-2080 SM) adalah salah seorang nabi dan rasul dalam agama Islam yang diutus kepada Kaum Tsamūd. Ia diangkat menjadi nabi pada tahun 2100 SM. Dia telah diberikan mukjizat yaitu seekor unta betina yang dikeluarkan dari celah batu dengan izin Allah yakni bagi menunjukkan kebesaran Allah kepada kaum Tsamud. Namun kaum Tsamud masih mengingkari ajaran Shaleh, mereka membunuh unta betina tersebut. Akhirnya kaum Tsamud dibalas dengan azab yang amat dahsyat yaitu dengan satu tempikan dari Malaikat Jibril yang menyebabkan tubuh mereka hancur berai.

Nama Shaleh kemungkinan besar berasal dari sejarah Petra Se'lah yang berarti "batu" dalam bahasa Ibrani, yang lain meyakini bahwa namanya berasal dari bahasa Arab "صالح" (Sali'h) yang berarti "orang baik". Genealogi: Salleh bin Ubaid bin 'Ashif bin Masih bin 'Abid bin Hazir bin Samud bin Amir bin Irim bin Syam bin Nuh. Saleh merupakan anak tertua dan memiliki dua orang adik yang bernama Aanar dan Ashkol.

Kaum Tsamud

Nabi Shalih as. adalah seorang putra dari 'Ubaid bin Jabir bin Tsamud, kaumnya bernama Tsamud yang namanya diambil dari nama kakeknya, yaitu Tsamud bin Amir bin Iran bin Sam bin Nuh, jadi Nabi Sholih as adalah keturunan dari Nabi Nuh yang ke enam.

Kaum Tsamud tinggal di bukit-bukit pegunungan yang terletak diantara daerah Hijaz dan Syam sebelah tenggara negeri Mad-yan. Kaum Tsamud adalah penyembah berhala, sebagaimana kaum 'Aad yang telah binasa karena dilanda angin topan yang dikirim oleh Allah sebagai pembalasan atas pembangkangan dan pengingkaran mereka terhadap dakwah dan risalah Nabi Hud alaihis salam.

Akibat kesesatan kaum Tsamud, maka Allah Subhanahu wa ta'ala mengutus Nabi Shalih untuk menyeru agar kaumnya meninggalkan berhala dan hanya menyembah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi beserta isinya termasuk kaum Tsamud itu sendiri, yaitu Allah Subhanahu wa ta'ala.

Kemakmuran dan kemewahan hidup serta kekayaan alam yang dahulu dimiliki dan dinikmati oleh suku Aad telah diwarisi oleh kaum Tsamud. Tanah-tanah yang subur yang memberikan hasil berlimpah ruah, binatang-binatang perahan dan ternak yang berkembang biak, kebun-kebun bunga yag indah, bangunan rumah-rumah yang didirikan di atas tanah yang rata dan dipahatnya dari gunung. Semuanya itu menjadikan mereka hidup tenteram, sejahtera, dan bahagia, merasa aman dari segala gangguan alam dan mengaku bahawa kemewahan hidup mereka akan kekal bagi mereka dan anak keturunan mereka.

Kaum Tsamud tidak mengenal Tuhan. Tuhan mereka adalah berhala-berhala yang mereka sembah dan puja, kepadanya mereka berkorban, tempat mereka meminta perlindungan dari segala bala dan musibah dan mengharapkan kebaikan serta kebahagiaan.

Dakwah kepada kaum Tsamud

Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya berada dalam kegelapan terus-menerus tanpa diutusnya pesuruh di sisi-Nya untuk memberi penerangan dan memimpin mereka keluar dari jalan yang sesat ke jalan yang benar. Demikian pula Allah tidak akan menurunkan azab dan seksaan kepada suatu umat sebelum mereka diperingatkan dan diberi petunjukkan oleh-Nya dengan perantara seorang yang dipilih untuk menjadi utusan dan rasul-Nya.

Sunnatullah ini berlaku pula kepada kaum Tsamud, yang kepada mereka telah diutuskan Nabi Saleh seorang yang telah dipilih-Nya dari suku mereka sendiri, dari keluarga yang terpandang dan dihormati oleh kaumnya, terkenal tangkas, cerdik, pandai, rendah hati dan ramah-tamah dalam pergaulan. Sebagaimana kisah ini telah di abadikan Allah dalam Al-Quran. Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman :

Artinya : "Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud, seorang saudaranya yang bernama Sholih seraya berkata : Hai kaumku! Sembahlah Allah tiada kamu ber Tuhan selain daripada-Nya. Dia yang telah menjadikan kamu dari bumi serta memakmurkannya, sebab itu mintalah ampun serta bertobat kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhan itu dekat lagi mengabulkan permintaan seseorang." (QS. Hud: 61)

Kemudian mereka menjawab: "Mereka berkata : Hai Sholih! Sesungguhnya kamu tempat harapan kami sebelum ini, patutkah kamu melarang kami menyembah apa yang disembah bapak-bapak kami? Sesungguhnya kami didalam keraguan, tentang apa yang kamu serukan kepada kami itu dan kami menaruh curiga." (QS. Hud: 62)

Mendengar perkataan dari kaumnya itu, kemudian Nabi Shalih as. memberikan keterangan kepada kaumnya, "Nabi Shalih berkata : Hai kaumku! Apakah pikiranmu, jika saya diatas kebenaran dari Tuhan, dan Dia memberi rahmat kepada saya berupa wahyu...? Siapa yang menolong saya dari siksaan Allah jika saya mendurhakainya...? Tiadalah kamu menambah apa-apa pada saya selain dari kerugian saja." (QS. Hud: 63)

Ketika Nabi Sholih berkata kepada mereka : "Tiadakah kamu takut pada siksa Allah? Sesungguhnya saya menjadi Rasul Allah yang dipercaya untukmu. Sebab itu takutlah kepada Allah dan ikutilah perkataanku. Saya tidak minta upah kepadamu atas nasihatku ini, tiada balasan selain daripada Allah semesta alam. Adakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan tinggal disini dengan aman sentosa? Dalam kebun-kebun dan sumber air. Yang menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan pohon kurma lumak lembut buahnya. Kamu memahat bukit dengan rajin, untuk kamu jadikan tempat tinggal. Sebab itu takutlah kepada Allah dan ikutilah ucapanku. Janganlah kamu mengikuti urusan orang-orang yang melampau batas yaitu orang-orang yang berbuat kerusakan dimuka bumi dan tiada mau berbuat kebaikan." (QS. Asy-Syu'ara: 142-152)

Kaum Tsamud kemudian menjawab dengan memperolok-olok dan meminta kepada Nabi Sholih as memberikan bukti jika dia benar-benar Rasul Allah, "Maka sahut mereka: Kamu sesungguhnya hanya dari golongan orang-orang yang memiliki ilmu sihir. Tiadalah kamu, melainkan hanya manusia sebagaimana kami, sebab itu hendaklah tunjukkan bukti kerasulan jika kamu benar." (QS. Asy-Syu'ara: 153-154)

Mu'jizat Nabi Shalih

Nabi Sholih diangkat sebagai Rasul oleh Allah, yang ditugaskan untuk menyeru kaumnya agar menyembah Allah bukan berhala-berhala. Tugas yang amat berat ini dilaksanakan tanpa mengenal putus asa dengan memberikan tanda-tanda kerasulan agar kaum Tsamud percaya dan beriman kepada Allah Swt. Kaum Tsamud semakin lama semakin bertambah kedurhakaannya. Sebenarnya mereka telah mendustakan beberapa Rasul yang datang kepada mereka.

Kesombongan kaum Tsamud yang tidak mau menyembah Allah sebelum ada bukti atau mu'jizat yang ada pada Nabi Sholih as, sehingga ia berdo'a kepada Allah, agar diberi tanda kebenaran atas kerasulannya, sehingga kaumnya mau beriman sesuai permintaan kaum Tsamud yang mengatakan mereka akan beriman setelah Nabi Sholih memberikan tanda-tanda bahwa dia adalah benar-benar seorang Rasul. Maka do'a Nabi Sholih dikabulkan dengan diberinya mu'jizat berupa unta yang keluar dari batu besar.

Nabi Saleh berkata kepada kaumnya ketika mereka meminta mukjizat kepadanya: "Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat (yang menunjukkan kebenaran) untukmu, sebab itu biarkanlah dia, makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apa pun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat." (QS. Hud: 64)

Kemudian beliau mengadakan perjanjian kepada kaumnya, diberitahukan bahwa unta itu adalah milik Allah yang diwujudkan sebagai bukti kerasulannya. Karena itu kaumnya dilarang mengganggu apalagi membunuhnya, bila itu dilanggar, maka Allah akan mengazab mereka dengan azab yang besar penderitaanya. (Lihat QS. Asy-Syu'ara: 155-156).

Tetapi apa yang terjadi kaum Tsamud melanggar perjanjian itu dengan membunuh unta Nabi Shalih. (Lihat QS. Asy-Syu'ara: 157-

159). Maka Allah murka dan menurunkan azab yang sangat dahsyat kepada kaum Tsamud. (Lihat QS. Al-A'rof: 77-78).

"Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang membuat kerosakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan." (QS. an-Naml: 48)

Mereka adalah alat-alat kejahatan. Mereka adalah penjahat-penjahat kota yang terkenal. Mereka sepakat untuk melaksanakan kejahatan. Kegelapan semakin menyelimuti gunung. Kemudian datanglah malam tragedi. Unta yang diberkati itu sedang tidur dan mendekap anaknya yang kecil di dadanya. Anaknya yang kecil itu merasakan kedinginan dan mendapatkan kehangatan di sisi ibunya. Sembilan orang penjahat tersebut telah menyiapkan senjata mereka, pedang mereka dan tombak mereka. Mereka keluar di kegelapan malam, dan pemimpin mereka banyak minum khamer sehingga ia hampir tidak melihat apa yang di depannya.

"Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya." (QS. al-Qamar: 29)

Sembilan laki-laki itu menyerang unta itu, lalu ia bangkit dan bangunlah anaknya dalam keadaan takut. Akhirnya, darah unta itu terkubur dan anaknya pun terbunuh. Nabi Saleh mengetahui apa yang terjadi, lalu beliau keluar dalam keadaan marah untuk menemui kaumnya. Beliau berkata kepada mereka: "Bukankah aku telah mengingatkan agar kalian jangan mengganggu unta itu.

Azab bagi kaum Tsamud

Mereka menjawab: "Kami memang telah membunuhnya, maka datangkanlah siksaan kepada kami jika engkau mampu. Bukankah engkau berkata bahwa engkau termasuk utusan Tuhan." Nabi Saleh berkata kepada kaumnya: "Bersukarialah kamu sekalian di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan." (QS. Hud: 65)

Setelah itu, Nabi Soleh meninggalkan kaumnya. Kemudian datanglah janji Allah SWT untuk menghancurkan mereka setelah tiga hari. Maka pada hari keempat langit terpecah melalui teriakan yang keras, teriakan itu menghancurkan gunung dan membinasakan apa saja yang ada di dalamnya. Kemudian bumi bergoncang dan menghancurkan apa saja yang di atasnya. Itu adalah satu teriakan saja yang membuat kaum Nabi Saleh hancur berantakan.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cubaan bagi mereka, maka tunggulah (tindahan) mereka dan bersabarlah. Dan beritakanlah kepada mereka bahawa sesungguhnya air itu terbagi antara mereka (dengan unta betina itu); tiap-tiap giliran minum dihadiri (oleh yang punya giliran). Maka, mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap (unta itu) dan membunuhnya. Alangkah dahsyatnya azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang. " (QS. al- Qamar: 27-31)

Mereka hancur semua sebelum mengetahui apa yang terjadi. Sedangkan orang-orang yang beriman bersama Nabi Saleh, mereka telah meninggalkan tempat tersebut sehingga mereka selamat.

Kisah Nabi Saleh Dalam Al-Quran

Kisah Nabi Salih diceritakan oleh 72 ayat dalam 11 surah di antaranya surah Al-A'raaf, ayat 73 hingga 79 , surah " Hud " ayat 61 sampai ayat 68 dan surah " Al-Qamar " ayat 23 sampai ayat 32.