Home » » Kisah Imamatul Maisaroh - Mantan TKI yang Akan Berpidato di Konvensi Partai Demokrat AS

Kisah Imamatul Maisaroh - Mantan TKI yang Akan Berpidato di Konvensi Partai Demokrat AS

Imamatul Maisaroh
Imamatul Maisaroh
(penamerdeka.com)
Imamatul Maisaroh adalah mantan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan berpidato di konvensi nasional Partai Demokrat, di Stadion Wells Fargo, Philadelphia, Pensylvania, Amerika Serikat pada hari Selasa, 26 Juli 2016, waktu AS.

Perempuan yang berusia 36 tahun ini merupakan warga Dusun Krajan, Desa Kanigoro, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Malang. Ia akan bercerita pengalamanya sebagai korban perbudakan manusia di hadapan calon Presiden AS Hillary Clinton dan beberapa orang penting di AS.

Bersama belasan senator dan pembicara bergengsi lainnya, Ima tampil di panggung utama Stadion Wells Fargo, pada Selasa 26 Juli 2006. ‘’Surat undangan resmi yang dikirim Komite Nasional Partai Demokrat, baru saja saya terima Sabtu sore,’’ kata Ima dengan nada gembira.

Di ajang itulah, Partai Demokrat AS secara resmi akan memilih Hillary Rodham Clinton sebagai kandidat utama dan Senator Tim Kaine sebagai wakil presiden, dalam Pemilihan Presiden AS November 2016 nanti.


Biografi

Ima yang saat ini berusia 36 tahun merupakan anak pertama dari pasangan Turiyo dan Alimah, ia dikenal sebagai perempuan yang cerdas.

Ima sudah menikah dini saat masih duduk di bangku kelas satu Sekolah Menengah Atas (SMA) Khaerudin, Gondanglegi, Kabupaten Malang. Ia dijodohkan dengan seseorang yang tidak dikenalnya. Akibatnya dia hanya sekolah satu tahun saja.

Menikah karena dijodohkan, Ima yang pernah bersekolah di MTs Kanigoro, Pagelaran, Kabupaten Malang, ini merasa tidak bahagia, karena tidak mencintai suaminya.

Ima pernah kabur dari rumah, tapi orang tua menemuinya. Kemudian ia berpisah dengan suaminya. Pasca perceraian, Ima merasa malu, sebab itu dia berkeinginan pergi jauh dari kampung halamannya.

Keinginan itu membawanya mendaftarkan diri di salah satu jasa penyalur tenaga kerja, untuk menjadi TKW dengan tujuan Hong Kong. Karena tidak memiliki pengalaman, akhirnya ia harus latihan kerja. Selama latihan kerja, Ima kenal baik dengan pemilik perusahaan itu. Hingga akhirnya orang yang dia sebut majikan itu menawarinya untuk kerja di Amerika Serikat.


Pergi ke Amerika Serikat

Menurut Ima, seperti dikutip dari nasional.news.viva.co.id. Ia pergi ke Amerika tahun 1997. Awalnya, ia ditawari majikannya yang ada di Malang. Katanya, saudara sepupunya butuh pembantu, kemudian ia ditawari. Ima senang sekali, karena gajinya US$150 per bulan.

Namun, nasib naas harus diterima Ima sesampainya di Amerika. Sejak dijemput di bandara, paspor Ima ditahan oleh majikan yang ada di AS. Menurut Turiyo, selama dua tahun Ima bekerja di sana tidak digaji. Dengan jam kerja 12 jam perhari, ia sering mendapat perlakukan tidak menyenangkan misalnya bila melakukan kesalahan sedikit langsung dipukul.

Kedua orangtuanya mengaku tidak mengetahui pasti pekerjaan Ima di Amerika. Selama berkomunikasi melalui sambungan telepon, Ima bercerita kepada orangtuanya bekerja di sebuah kantor di AS. "Ima sering telepon, terakhir telepon sebelum Lebaran. Bilangnya kerja kantoran, tetapi dibagian apa, saya tidak dikasih tahu," kata Turiyo.

Sementara, Haris Suzana, adik ketiga Ima menjelaskan, setiap kali menelepon, Ima tidak pernah bercerita soal pekerjaan. Menanyakan kabar keluarga adalah yang paling pertama diutarakan oleh Ima setiap keli menelpon. "Sejak saya kecil, masih SD, kakak sudah ke Amerika. Dia paling rajin tanya keluarga dan sering kirim uang untuk keluarga di sini (Malang)," ujar Haris.

Berdasarkan situs www.indonesianlantern.com, Ima berhasil kabur tahun 2000, setelah meminta tolong kepada penjaga bayi tetangganya, yang kemudian mengantarkannya ke kantor Coalition to Abolish Slavery and Trafficking (CAST).

Selama dua tahun, jadi korban perbudakan, Ima akhirnya berhasil kabur, berkat bantuan asisten rumah tangga tetangganya di AS. Ima akhirnya dibawa ke penampungan gelandangan dan tinggal selama tiga bulan di sana.

Selanjutnya, dibantu oleh orang yang menolongnya, Ima dicarikan tempat tinggal dan disekolahkan hingga dicarikan pekerjaan.

Pada tahun 2012, Ima menjadi koordinator Coalition to Abolish Slavery and Trafficking (CAST), sebuah organisasi nirlaba anti perbudakan. Selain itu, Ima juga diangkat menjadi salah satu penasihat Presiden Barack Obama di bidang perdagangan manusia.


Sumber: