Home » » Profil Sulistina Sutomo - Istri Bung Tomo

Profil Sulistina Sutomo - Istri Bung Tomo

Sulistina Sutomo
Sulistina Sutomo
Sulistina Sutomo adalah isteri dari Pahlawan Nasional, Sutomo atau lebih dikenal Bung Tomo.


Pertemuan dengan Sutomo

Sulistina lahir pada 25 Oktober 1925 di Malang. Perkenalan Sulistina dengan Sutomo berawal pada tahun 1945. Saat itu Sulistina bekerja di Palang Merah Indonesia (PMI). Ia dan tim PMI Malang dikirim khusus ke Surabaya untuk merawat para pejuang yang gugur dan terluka dalam peristiwa bersejarah 10 November. Di Surabaya Inilah Sulistina kenal Bung Tomo.

Lies panggilan akarab sulistina cukup salah tingkah dengan gerak-gerik pria kelahiran Kampung Blauran, Surabaya yang saat itu sudah menjadi idola rakyat. Bung Tomo selalu cari perhatian ketika Lies bekerja merawat para pejuang yang terluka di tenda-tenda pertolongan.

Jalinan kasih kedua anak muda ini lebih banyak lewat surat menyurat. Perjuangan Bung Tomo menaklukkan istrinya tak berhenti ketika itu saja. Bung Tomo terus merajut romantismenya dalam setiap surat-surat yang dikirim ketika bertugas keluar kota.

Saking ingatnya dengan surat Bung Tomo, Lies menulis buku ‘Romantisme Bung Tomo, Kumpulan Surat dan Dokumen Pribadi Pejuang Revolusi Kemerdekaan’ pada tahun 2006.

Cinta mereka tak terhalang ruang dan waktu. Ketika Sutomo meninggal pada tahun 1981 di Mekah, berkali-kali Lies bermimpi dipeluk Bung Tomo yang menggunakan baju biru.

Setelah Bung Tomo meninggal dunia pun, Lies tetap rajin menulis surat. Kejadian apa pun selalu diceritakan dalam surat yang tak pernah terkirim itu.

Bung Tomo berhasil mempersunting Sulistina pada tahun 1947. Sulistina meninggal dunia pada usia 91 tahun. Sulistina wafat pada Rabu dini hari, 31 Agustus 2016. Dia sempat dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto di Jakarta dan kemudian meninggal dunia pada pukul 01.42 WIB.


Profil singkat Bung Tomo

Sutomo
Sutomo
Sutomo atau lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan Belanda melalui tentara NICA yang kembali untuk penjajah, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Ia lahir di Surabaya, Jawa Timur pada 3 Oktober 1920 dan meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi pada 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun.

Setelah pemerintah didesak oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) agar memberikan gelar pahlawan kepada Bung Tomo pada 9 November 2007. Akhirnya gelar pahlawan nasional diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawan tanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuh pada tanggal 2 November 2008 di Jakarta dengan Keppres No. 41/TK/2008.


Sumber: